Ada 15 Juta Ton, Pupuk Indonesia Pastikan Produksi Aman

8 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pupuk Indonesia memastikan pihaknya sudah mengatisipasi risiko gejolak ekonomi dengan memperkuat koordinasi terkait produksi dan kebutuhan pupuk Tanah Air. Tahun ini, produksi diprediksi tetap aman di tengah perang di Timur Tengah.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengungkapkan pihaknya telah mengantisipasi potensi gejolak dengan memperkuat koordinasi dengan produsen pupuk di kawasan Asia Tenggara.

"Makanya sejak tahun lalu kita berdiskusi secara intensif dengan Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemicals Group," kata Rahmad Pribadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rahmad, para produsen pupuk di Asia Tenggara harus membentuk sebuah platform di mana mereka bisa melakukan kolaborasi secara intensif.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun platform kerja sama yang memungkinkan produsen pupuk di kawasan berbagi sumber daya, informasi, dan pengetahuan.

Langkah tersebut juga ditujukan untuk membangun rantai pasok pupuk yang berkelanjutan dan kuat guna mendukung ketahanan pangan, khususnya di kawasan ASEAN.

[Gambas:Youtube]

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan produksi pupuk Indonesia tetap aman di tengah perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Hal itu disampaikan Sudaryono di sela-sela acara Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Nusa Dua, Bali.

Perang di Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz, padahal jalur pelayaran tersebut dilalui sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia.

Akibatnya, pasokan pupuk urea global menghadapi kendala seiring terganggunya distribusi di kawasan tersebut.

Namun, kondisi ini justru menjadi peluang bagi Indonesia yang merupakan salah satu produsen pupuk terbesar di dunia.

"Saat ini Indonesia produksi sekitar 14,5 sampai 15 juta ton setiap tahun dan kita pakai untuk petani kita," katanya dalam video yang diunggah Youtube CNNIndonesia, dikutip Selasa (7/4).

Dengan produksi tersebut, Indonesia berpeluang menjadi penyeimbang sekaligus memperoleh keuntungan dari kebutuhan impor mendesak berbagai negara.

"Jadi ada sisa gitu ya, ada sisa produksi yang barangkali bisa kita alokasikan untuk ekspor di tahun ini," ujar Sudaryono.

"Ada 1,5 juta ton yang sekarang banyak diminati atau diminta oleh banyak negara," sambungnya.

Menurut dia, sudah ada lima hingga enam negara yang menghubungi pemerintah Indonesia dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mengamankan pasokan pupuk.

Negara-negara tersebut disebut siap membayar berapapun angkanya demi mendapatkan pasokan.

"Ini sekali lagi bahwa dengan gangguan (Perang Iran) ini, saya ingin pastikan bahwa kebutuhan pertanian dan pangan kita aman," ucap Sudaryono.

Sementara itu, CEO Brunei Fertilizer Industries Harri Kiiski menekankan pentingnya kolaborasi industri, termasuk berbagi praktik terbaik dan memastikan keberlanjutan investasi di sektor pupuk.

"Anda bisa bayangkan bahwa ini adalah investasi berjuta-juta dolar yang akan terjadi," kata Harri.

(dhz/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |