Ada Uji Rudal, Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India

3 hours ago 7

CNN Indonesia

Minggu, 10 Mei 2026 13:40 WIB

Pesawat Airbus A330-900neo Garuda Indonesia dilaporkan berputar tanpa henti di wilayah udara India selama 4 jam lebih sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan. Ilustrasi pesawat maskapai Garuda Indonesia. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah insiden penerbangan yang jarang terjadi menimpa maskapai nasional Garuda Indonesia. Pesawat Airbus A330-900neo milik Garuda dilaporkan harus berputar-putar tanpa henti di wilayah udara India selama empat jam lebih sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.

Pada 8 Mei 2026, penerbangan Garuda Indonesia GA4208 melayani rute dari Jeddah, Arab Saudi (JED) menuju Medan, Indonesia (KNO).

Pesawat dengan kode registrasi PK-GHI tersebut biasanya menempuh perjalanan sekitar 8 jam. Namun, pada hari itu, durasi penerbangan membengkak menjadi 12 jam 39 menit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah menempuh 5 jam 20 menit pertama yang rutin melintasi Arab Saudi, Oman, dan Laut Arab, pesawat mulai memasuki pola penahanan atau holding pattern saat berada di atas wilayah selatan India.

Meskipun holding pattern adalah prosedur normal akibat kepadatan lalu lintas udara, durasi yang dialami GA4208 sangatlah tidak lazim. Pesawat tetap berada dalam pola putaran tersebut selama 4 jam 30 menit. Artinya, pesawat hanya berputar-putar di satu titik selama hampir lima jam.

Setelah akhirnya mendapatkan izin untuk lanjut, pesawat Garuda Indonesia itu membutuhkan waktu sekitar 2 jam 50 menit lagi untuk mendarat di Medan.

Penyebab dari pola penahanan yang ekstrem ini dilaporkan karena penutupan sebagian besar wilayah udara di sekitar Teluk Benggala. Penutupan tersebut dilakukan untuk kepentingan uji coba rudal Agni-6 milik India.

Penutupan wilayah udara untuk peluncuran rudal memang hal biasa, namun melansir One Mile At a Time, lamanya waktu tunggu yang dialami pesawat ini memicu sejumlah pertanyaan teknis:

1. Pasokan Bahan Bakar: Di tengah harga avtur yang sedang melambung tinggi di tahun 2026, membawa cadangan bahan bakar untuk tambahan 5 jam terbang sangatlah mahal.

Muncul spekulasi apakah pilot sudah memprediksi hambatan ini sebelumnya, atau mereka sedang melakukan tankering (membawa bahan bakar lebih dari Arab Saudi).

[Gambas:Twitter]

2. Opsi Delay: Jika pihak maskapai sudah mengetahui adanya potensi penutupan wilayah udara, banyak ahli mempertanyakan mengapa keberangkatan tidak ditunda saja demi efisiensi.

3. Strategi Operasional: Ada kemungkinan tim operasional Garuda berharap bisa melintasi area tersebut sebelum penutupan dimulai, namun ternyata harus menghadapi skenario terburuk yakni menunggu pembukaan wilayah udara di udara.

Luasnya wilayah udara yang ditutup disinyalir sangat masif, sehingga pesawat tidak bisa melakukan pengalihan rute (reroute) secara efisien untuk menghindari zona penutupan tersebut.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |