AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

9 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Regulator nuklir Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa mereka menyetujui pembangunan reaktor nuklir kecil TerraPower yang didukung Bill Gates di Wyoming, AS.

Persetujuan yang dikeluarkan pada Rabu (4/3) ini merupakan yang pertama untuk sebuah pabrik yang diharapkan dapat berjalan dengan bahan bakar uranium khusus yang lebih diperkaya.

Persetujuan pertama untuk reaktor komersial dalam satu dekade ini diberikan oleh Komisi Regulasi Nuklir (NRC).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persetujuan tersebut diberikan untuk reaktor berpendingin natrium 345-megawatt TerraPower yang direncanakan akan dibangun di Kemmerer, di bagian barat negara bagian. Reaktor ini diharapkan akan beroperasi pada awal tahun 2030-an.

Dikutip dari Reuters, TerraPower berencana untuk memulai konstruksi dalam beberapa minggu mendatang dan mengajukan permohonan lisensi operasi ke NRC pada akhir 2027 atau awal 2028, katanya.

NRC mengatakan pabrik tersebut mencakup sistem penyimpanan energi untuk meningkatkan output sementara hingga 500 MW. Reaktor besar saat ini rata-rata mengakomodir sekitar 1 gigawatt atau sekitar 1.000 MW.

Presiden Donald Trump, yang menginginkan AS melipatgandakan kapasitas tenaga nuklir menjadi 400 gigawatt pada 2050, mengeluarkan perintah eksekutif tahun lalu untuk mempercepat izin NRC, berusaha mempersingkat proses multi-tahun ⁠menjadi 18 bulan.

NRC sendiri menyelesaikan tinjauan teknisnya terhadap desain TerraPower dalam waktu kurang dari 18 bulan.

Pendukung reaktor modular kecil (SMR) seperti Natrium mengatakan bahwa fasilitas dapat dibuat sebelumnya di pabrik daripada di lokasi, menghemat biaya konstruksi. Para kritikus mengatakan SMR akan kesulitan untuk mencapai skala ekonomi reaktor yang lebih besar saat ini dan akan selalu mahal.

Reaktor Natrium akan berjalan dengan bahan bakar yang disebut high-assay low-enriched uranium (HALEU) yang menurut pengembang akan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

HALEU, yang secara tradisional dibuat di Rusia, diperkaya hingga hampir 20 persen dibandingkan dengan tingkat ⁠5 persen untuk uranium yang digunakan saat ini.

Pada Januari, Departemen Energi AS menganugerahi American Centrifuge Operating dan General Matter masing-masing US$900 juta untuk ⁠mengembangkan HALEU domestik.

Pendukung non-proliferasi telah mendorong agar HALEU diperkaya hanya hingga 12 persen untuk mencegah rantai pasokannya menjadi sasaran militan yang ingin membuat senjata nuklir mentah.

AS dan Israel meluncurkan serangan bersama pada 28 Februari. Imbas bombardir ini, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas.

Pada Senin (2/3), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan serangan terhadap Iran harus terjadi karena Teheran tengah menimbun rudal dan drone yang akan digunakan untuk melindungi program nuklir dan memperoleh bom nuklir.

Tuduhan persenjataan nuklir yang terus digemakan AS selalu dibantah Iran. Mereka berpendapat bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai, bukan membuat senjata berbahaya.

Rubio juga mengeklaim tujuan perang ini adalah menghancurkan rudal dan nuklir Iran. Namun, dia juga menekankan AS menyambut baik pergantian rezim.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Trump berulang kali mengatakan ingin mengganti pemerintahan di Iran. Dia bahkan menyerukan warga Iran untuk bergabung dengan AS-Israel menghancurkan negara tersebut.

(lom/mik)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |