Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump makin getol mencaplok Greenland setelah mengirim sejumlah pesawat militer North American Aerospace Defense Command (NORAD) ke pulau tersebut pada Senin (19/1).
Ambisi Trump memiliki Greenland semakin menjadi-jadi hingga negara-negara Eropa waswas dan mulai memperkuat kehadiran militer di pulau terbesar dunia itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota parlemen Denmark Rasmus Jarlov telah memperingatkan bahwa invasi militer AS ke Greenland akan memicu perang.
Selain mengirim pesawat militer, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif tambahan hingga 25 persen bagi negara-negara Eropa yang menolak pengambilalihan Greenland oleh AS. Negara-negara tersebut yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.
Keinginan Trump akan Greenland ini telah menjadi sorotan dunia hingga Rusia dan China ikut buka suara.
Kedua negara sekutu itu sejak awal dijadikan dalih oleh Trump untuk mengambil alih Greenland karena menurutnya China-Rusia juga mengincar pulau tersebut.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China telah membantah tudingan Trump dan menyatakan aktivitas Beijing di sana sudah sesuai hukum dan bertujuan mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan itu.
"AS tidak boleh menggunakan negara lain sebagai dalih untuk mencari keuntungan pribadi," kata juru bicara Kemlu China Mao Ning pada Senin (12/1).
"Kawasan Arktik menyangkut kepentingan bersama komunitas internasional. Hak dan kebebasan negara untuk beraktivitas sesuai hukum di Arktik harus sepenuhnya dihormati," ucapnya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga menegaskan negaranya tidak berniat ikut campur dalam urusan Greenland dan tak punya agenda untuk mengendalikan wilayah tersebut.
Meski begitu, Lavrov menyuarakan komentar kontroversial dengan menyebut Greenland "secara prinsip, bukan bagian alami dari Denmark."
"Secara prinsip, Greenland bukanlah bagian alami dari Denmark, bukan?" ungkap Lavrov, seperti dikutip Reuters.
"Itu juga bukan bagian alami dari Norwegia maupun Denmark. Greenland adalah hasil penaklukan kolonial. Fakta bahwa penduduknya kini telah terbiasa dan merasa nyaman adalah persoalan lain," tambah dia.
Greenland merupakan wilayah otonomi Denmark. Pulau terbesar di dunia itu kaya akan mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri teknologi AS.
Mineral tanah jarang belakangan menjadi salah satu objek paling didamba Trump karena dirinya terobsesi menemukan sumber pasokan alternatif di kawasan seperti Ukraina dan Greenland.
(blq/bac)

















































