CNN Indonesia
Rabu, 25 Mar 2026 09:30 WIB
Ilustrasi. Setelah melahirkan, haid bisa terlambat. (DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menstruasi yang belum kembali setelah melahirkan kerap membuat sebagian ibu bertanya-tanya. Terlebih ketika masa nifas telah usai, tetapi siklus haid belum juga muncul seperti sebelum hamil.
Tak sedikit yang merasa khawatir, apakah kondisi ini masih tergolong wajar atau justru menjadi tanda gangguan kesehatan tertentu?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa belum menstruasi setelah melahirkan?
Kembalinya menstruasi setelah persalinan sangat dipengaruhi oleh perubahan hormon dalam tubuh. Dilansir dari Thomson Medical, salah satu hormon yang berperan besar adalah prolaktin.
Prolaktin merupakan hormon yang bertugas merangsang produksi ASI. Kadar prolaktin yang tinggi dapat menekan ovulasi, yakni proses pelepasan sel telur dari indung telur. Tanpa ovulasi, menstruasi pun belum terjadi.
Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron menurun drastis, sementara prolaktin meningkat, terutama jika ibu menyusui secara rutin.
Kondisi ini membuat tubuh "menunda" kembalinya siklus menstruasi sebagai bagian dari proses pemulihan alami.
Pada ibu yang tidak menyusui, menstruasi umumnya kembali dalam waktu sekitar 6-8 minggu setelah persalinan.
Sementara pada ibu yang menyusui secara eksklusif, haid bisa tertunda hingga enam bulan atau bahkan lebih lama. Kedua kondisi tersebut masih tergolong normal.
Penelitian dari Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi juga berdampak pada sistem reproduksi ibu.
Menyusui secara eksklusif dapat menunda ovulasi sehingga menstruasi pasca persalinan muncul lebih lambat. Selain itu, ASI eksklusif juga membantu proses involusi rahim, yaitu kembalinya ukuran rahim seperti sebelum hamil, sehingga dapat mengurangi risiko komplikasi pada masa nifas.
Pada ibu yang memberikan ASI eksklusif atau hampir eksklusif dan mengalami amenore (tidak haid), kemungkinan terjadinya kehamilan kurang dari 2 persen dalam enam bulan pertama setelah melahirkan.
Namun, setelah enam bulan atau ketika bayi mulai mendapatkan makanan pendamping ASI atau susu formula, risiko kehamilan kembali meningkat seiring dengan kemungkinan ovulasi yang mulai terjadi.
Apakah bisa hamil lagi meski belum menstruasi? Jawabannya, bisa.
Meski belum mengalami menstruasi, bukan berarti kehamilan tidak mungkin terjadi. Ovulasi biasanya berlangsung sekitar 14 hari sebelum haid. Artinya, sel telur bisa saja dilepaskan lebih dulu sebelum menstruasi pertama muncul setelah persalinan.
Risiko hamil cenderung lebih besar pada ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif, karena kadar prolaktin lebih rendah sehingga ovulasi dapat kembali lebih cepat.
Karena itu, pasangan yang belum berencana memiliki anak kembali tetap disarankan menggunakan kontrasepsi, meskipun ibu belum menstruasi.
Tanda-tanda menstruasi akan kembali
Tubuh biasanya memberi sinyal sebelum siklus haid benar-benar kembali. Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:
• Kram ringan seperti nyeri haid
• Perubahan pada keputihan
• Peningkatan lendir serviks
• Payudara terasa lebih sensitif
• Perubahan suasana hati seperti gejala pramenstruasi (PMS)
Perlu diingat, setiap perempuan memiliki waktu pemulihan yang berbeda. Pola menyusui, keseimbangan hormon, kondisi kesehatan, tingkat stres, hingga kurang tidur dapat memengaruhi kapan menstruasi kembali.
Namun, jika muncul keluhan seperti nyeri hebat, perdarahan tidak biasa, atau tidak haid dalam waktu lama setelah berhenti menyusui, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tidak ada gangguan kesehatan tertentu.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































