Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan sekitar 23 ribu hunian sementara (huntara) bagi korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra dituntaskan bertahap sebelum Ramadan.
Target tersebut disesuaikan dengan fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan di wilayah terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdullah Muhari mengatakan penyelesaian huntara menjadi fokus awal sebelum masuk ke tahap pembangunan hunian tetap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk hunian ini, yang sifatnya hunian sementara, itu bisa kita tuntaskan, jumlahnya 23 ribu tadi pasti akan bertahap, pasti kita akan melihat di awal Ramadan," ujar Abdullah dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan setelah fase transisi darurat berakhir, pemerintah akan masuk ke tahap pemulihan dan rekonstruksi kawasan terdampak yang membutuhkan waktu lebih panjang.
"Berikutnya, setelah transisi darurat, itu baru fase pemulihan dan rekonstruksi. Ini waktunya akan agak panjang karena berkaitan dengan pembangunan kembali kawasan," ujarnya.
Berdasarkan rekapitulasi BNPB, pembangunan huntara, hunian tetap (huntap), dan Dana Tunggu Hunian (DTH) disesuaikan dengan jumlah rumah rusak berat di masing-masing provinsi.
Huntap umumnya akan mengikuti jumlah rumah rusak berat, sementara huntara dibagi ke dalam dua skema, yakni huntara fisik dan DTH.
Abdullah merinci hingga saat ini total huntara yang sedang dikerjakan di berbagai daerah mencapai sekitar 2.500 unit, termasuk yang telah selesai di beberapa lokasi.
"Yang sudah selesai di beberapa titik seperti di Aceh Tamiang sudah selesai 200 unit, kemudian akan selesai lagi minggu ini sebanyak 200 unit. Di Sumatera Barat juga sudah selesai beberapa puluh unit," ucapnya.
Selain huntara, BNPB juga menyalurkan DTH sebesar Rp600 ribu per bulan per kepala keluarga bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah kerabat atau mengontrak rumah. Di Aceh, dari sekitar 15 ribu rekening DTH yang disiapkan, sebanyak 6.190 rekening telah dibuat dan 1.114 kepala keluarga sudah menerima pencairan.
"Yang 1.114 ini rekening sudah di tangan dan bisa mencairkan anggaran Rp600 ribu per bulan per kepala keluarga," ujar Abdullah.
Di sejumlah wilayah, pembangunan huntara dilakukan dengan berbagai skema, baik terpusat maupun di lokasi rumah lama.
Di Aceh Tamiang, misalnya, terdapat dua skema pembangunan huntara, sementara sekitar 120 kepala keluarga memilih huntara dibangun di lokasi hunian sebelumnya karena pertimbangan akses kerja dan sekolah.
Untuk Sumatra Utara, proses pembangunan huntara, huntap, dan penyaluran DTH juga telah berjalan di sejumlah titik. Sementara di Sumatra Barat, progres DTH tercatat cukup signifikan, dengan 792 kepala keluarga telah menerima pencairan dari total 2.234 usulan.
Abdullah menambahkan percepatan pembangunan huntara di beberapa lokasi masih membutuhkan waktu penyelesaian akhir.
"Beberapa titik ini membutuhkan satu hingga dua hari lagi untuk finishing, sehingga kita harapkan di awal minggu depan sudah bisa mulai diisi oleh masyarakat," ujarnya.
Ia juga menyebut faktor cuaca dan potensi bencana susulan, seperti longsor dan banjir, menjadi tantangan dalam percepatan pembangunan dan penyaluran bantuan hunian sementara di sejumlah daerah terdampak.
(del/sfr)

















































