Eksplorasi Bentuk, Tubuh, dan Ekspresi Kebebasan Yohji Yamamoto

2 hours ago 2

LAPORAN DARI PARIS

Fandi Stuerz | CNN Indonesia

Senin, 09 Mar 2026 10:30 WIB

Setiap musim di Paris Fashion Week, pertunjukan Yamamoto menjadi kelanjutan dari sebuah odise kreatif yang dimulai lebih dari empat puluh tahun lalu. Yohji Yamamoto mempresentasikan koleksinya di panggung Paris Fashion Week pada Jumat (6/3). Pertunjukan yang sarat akan pertemuan budaya Timur dan Barat tersebut menyiratkan perjalanan panjang Yamamoto di industri mode. (Louise Daniel)

Paris, CNN Indonesia --

Pertunjukan Yohji Yamamoto jadi salah satu pertunjukan yang dinanti di Paris Fashion Week. Pun pertunjukan pada Jumat (6/3) kemarin benar-benar menunjukkan buah dari perjalanan panjangnya di industri mode. 

Ketika Yamamoto pertama kali menampilkan koleksinya di Paris pada tahun 1981, dunia mode Barat belum siap menghadapi radikalitas visinya. Siluet hitam yang longgar, potongan asimetris, dan estetika yang menolak konsep keindahan konvensional kerap "salah dibaca".

Nasib serupa juga dialami karya-karya desainer sejawatnya, Rei Kawakubo, yang sempat dijuluki secara sinis sebagai "Hiroshima chic." Namun nyaris setengah abad kemudian, eksperimen Yamamoto yang dahulu dianggap provokatif itu justru menjadi bahasa visual yang mengubah arah mode global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan panjang itu menjadikan Yamamoto salah satu kekuatan kreatif paling berpengaruh dalam sejarah mode modern. Setiap musim di Paris Fashion Week, pertunjukan Yohji Yamamoto menjadi kelanjutan dari sebuah odise kreatif yang dimulai lebih dari empat puluh tahun lalu, sebuah eksplorasi tanpa henti tentang bentuk, tubuh, dan kebebasan.

Koleksi yang dipresentasikan Jumat lalu memperlihatkan bagaimana pencarian tersebut terus berkembang. Sekilas, busana Yamamoto tampak seperti rangkaian struktur yang sengaja dibiarkan terurai. Lapisan kain melilit tubuh model secara tidak simetris, sementara siluet besar jatuh longgar tanpa mengikuti anatomi tubuh Barat yang biasanya menjadi dasar konstruksi pakaian.

Namun seperti sering terjadi dalam karya Yamamoto, kesan spontan itu sebenarnya merupakan kekeliruan, atau bahkan kealpaan dalam memahami kreasinya. 

Potongan kain besar, mulai dari silk crêpe yang ringan, damask bermotif, hingga linen berat, dibentuk menjadi lapisan-lapisan yang membelit tubuh dalam struktur yang kompleks. Kimono Jepang menjadi titik dialog utama dalam koleksi ini. Potongan kain tidak sekadar dijahit, tetapi dipilin dan dilipat, menciptakan arsitektur tekstil yang bergerak bersama tubuh.

Yang paling mencolok adalah hampir tidak adanya jahitan yang terlihat. Struktur busana banyak yang tersembunyi di balik lipatan kain. Gaun-gaun bertingkat dipotong secara bias sehingga jatuh mengikuti gerak tubuh, sementara mantel panjang yang terinspirasi dari carrick coat ala Barat berubah menjadi lapisan-lapisan longgar yang nyaris kehilangan struktur tailoring-nya. Pada satu tampilan, hanya sebuah martingale yang tersisa sebagai jejak dari potongan tailoring yang telah diurai.

Pendekatan ini mencerminkan prinsip shokunin kishitsu, semangat perajin dalam tradisi Jepang yang menekankan dedikasi total terhadap teknik dan penyempurnaan berkelanjutan. Dekonstruksi dalam karya Yamamoto terlihat seperti proses pembongkaran yang sangat terkontrol.

Avant Gardey, bukan avant-garde

Paradoks antara kebebasan visual dan disiplin teknis itu menemukan pantulan menarik di antara para tamu yang hadir di barisan penonton. Di antara mereka terdapat kelompok tari Jepang Avant Gardey, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi fenomena global berkat koreografi sinkron mereka yang viral.

Nama Avant Gardey, entah sengaja atau tidak, menjadi sebuah plesetan dari avant-garde, praktik mendorong batas-batas status quo melalui teknik eksperimental dan non-tradisional yang memprioritaskan ekspresi artistik dan tantangan intelektual daripada daya tarik pasar.

Yohji Yamamoto mempresentasikan koleksinya di panggung Paris Fashion Week pada Jumat (6/3). Pertunjukan yang sarat akan pertemuan budaya Timur dan Barat tersebut menyiratkan perjalanan panjang Yamamoto di industri mode.Nona dan Moca, anggota grup Avant Gardey hadir dalam pertunjukan koleksi Yohji Yamamoto di Paris Fashion Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Sekilas, estetika Avant Gardey tampak jauh dari dunia Yamamoto. Para penari tampil dengan wig identik, ekspresi wajah yang dilebih-lebihkan, dan gerakan mekanis yang hampir seperti kartun hidup. Penampilan mereka sering terasa absurd dan penuh humor.

Namun seperti busana Yamamoto, kesan kekacauan itu sebenarnya dibangun di atas disiplin yang sangat ketat.

Setiap gerakan Avant Gardey harus jatuh dalam sinkronisasi yang hampir matematis. Sudut tangan, tempo langkah, hingga ekspresi wajah dihitung dengan presisi. Apa yang tampak sebagai spontanitas sebenarnya adalah koreografi yang sangat terstruktur.

Sementara itu, runway Yamamoto sendiri bergerak dalam tempo yang lambat dan meditatif. Model berjalan perlahan, memberi ruang bagi penonton untuk membaca detail yang tidak segera terlihat. Struktur ini mengingatkan pada konsep jo-ha-kyū dalam teater klasik Jepang: ritme yang dimulai perlahan, berkembang secara bertahap, lalu mencapai klimaks.

Klimaks tersebut muncul pada bagian akhir peragaan, ketika motif karya maestro ukiyo-e era Edo, Katsushika Hokusai, muncul pada lima tampilan terakhir. Alih-alih finale tradisional, Yamamoto memilih menghadirkan Hokusai sebagai penutup naratif.

Menurut Yamamoto, karya Hokusai tetap "sangat menarik dan penuh kejutan" karena sang seniman terus bereksperimen hingga akhir hayatnya. Pengaruhnya bahkan melampaui Jepang dan menginspirasi pelukis Eropa seperti Claude Monet melalui gerakan Japonisme pada abad ke-19.

Seperti banyak momen dalam dunia Yamamoto, komentar itu membuka berbagai kemungkinan tafsir tanpa pernah memberi kesimpulan pasti.

Koleksi ini juga memperlihatkan dialog yang kuat antara Timur dan Barat. Motif tenun Jepang muncul berdampingan dengan plaid bergaya punk, sementara model berjalan mengenakan sandal kayu geta yang menegaskan akar budaya Jepang di tengah eksperimen bentuk yang sangat kontemporer.

Semua itu mencerminkan filosofi estetika Jepang wabi-sabi, yakni keindahan yang ditemukan dalam ketidaksempurnaan, asimetri, dan sesuatu yang "tidak selesai".

Busana Yamamoto tampak seperti belum selesai karena memang sengaja menolak ide finalitas bentuk. Namun mencapai kesan "tidak selesai" itu justru membutuhkan penguasaan teknik yang luar biasa.

Baik dalam struktur busana Yamamoto maupun koreografi Avant Gardey, kekacauan bukanlah lawan dari disiplin. Justru konsistensi dan proses menuju kesempurnaan itulah bentuk tertinggi dari disiplin itu sendiri.

(fas/els)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |