CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 21:00 WIB
Ilustrasi. Korban kecelakaan tidak boleh langsung diberi minum. (ANTARARFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kecelakaan maut memang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja. Dalam situasi darurat seperti ini, respons spontan masyarakat sering kali ingin membantu secepat mungkin, termasuk memberi minum kepada korban. Niatnya baik, agar korban tidak dehidrasi atau merasa lebih tenang.
Namun, di dunia medis, langkah ini justru tidak dianjurkan. Korban kecelakaan umumnya tidak boleh diberi minum sebelum mendapat penanganan tenaga medis karena alasan keselamatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut sejumlah risiko yang bisa dialami korban kecelakaan jika langsung diberi minum:
1. Risiko tersedak dan cairan masuk ke paru-paru
Mengutip dari Mayo Clinic, salah satu risiko terbesar adalah aspirasi, yaitu masuknya cairan ke saluran napas atau paru-paru.
Korban kecelakaan bisa saja mengalami penurunan kesadaran, linglung, atau muntah. Dalam kondisi ini, kemampuan menelan tidak bekerja optimal. Jika diberi minum, cairan bisa salah jalan dan masuk ke paru-paru.
Pada kondisi syok, korban tidak dianjurkan makan atau minum karena berisiko menyebabkan muntah atau tersedak. Dalam literatur medis, aspirasi bahkan dikenal sebagai komplikasi serius karena dapat menyebabkan sumbatan, cedera paru, hingga infeksi.
2. Bisa mengganggu tindakan darurat
Korban kecelakaan sering kali membutuhkan tindakan medis cepat, termasuk operasi atau anestesi.
Dalam kondisi seperti ini, pasien biasanya harus dalam keadaan nil per os (NPO), artinya tidak ada asupan melalui mulut. Tujuannya untuk mencegah aspirasi saat prosedur medis dilakukan.
Dikutip dari National Health Service (NHS) menyarankan korban cedera tidak diberi makan atau minum karena kemungkinan membutuhkan anestesi saat tiba di rumah sakit.
Ini berarti memberi minum bisa justru memperumit penanganan medis yang harus dilakukan segera.
3. Tidak membantu jika terjadi syok atau perdarahan
Pada kecelakaan serius, masalah utama sering kali bukan haus, melainkan perdarahan atau syok.
Syok terjadi saat organ tubuh kekurangan aliran darah dan oksigen. Dalam kondisi ini, penanganan yang dibutuhkan adalah menghentikan perdarahan dan pemberian cairan atau darah melalui infus, bukan air minum.
Jurnal medis tentanghemorrhagic shockmenegaskan bahwa penanganan utama adalah menghentikan sumber perdarahan dan mengganti kehilangan darah secepat mungkin.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Alih-alih memberi minum, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang lebih aman:
• Segera hubungi layanan darurat atau ambulans
• Hentikan perdarahan dengan tekanan langsung jika memungkinkan
• Jaga korban tetap hangat dan tidak banyak bergerak
• Pastikan jalan napas tetap terbuka
• Hindari memberi makan atau minum sampai ada penilaian medis
(anm/tis)


















































