Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan dengan intensitas lebat di beberapa wilayah. Kondisi ini disebut bakal meluas karena pola pertemuan angin yang mempengaruhi dinamika atmosfer di Indonesia bagian selatan.
Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sebagian besar wilayah Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di beberapa wilayah, seperti Makassar (126.7 mm/hari), Jawa Barat (129.0 mm), Nusa Tenggara Timur (126.0 mm), dan Bali (120.0 mm).
"Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat," kata Kapus Meteorologi BMKG Andri Ramdhani kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/1).
Andri menyebut faktor pertama adalah adanya penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.
Pola aliran angin ini meningkatkan pembentukan dan penguatan daerah konvergensi, khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, yang berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Kemudian, ia menyebut daerah tekanan udara rendah di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat yang turut memengaruhi pola sirkulasi angin regional.
"Sistem ini menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia," tuturnya.
"Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," imbuhnya.
Dalam sepekan ke depan, sejumlah dinamika atmosfer diperkirakan masih akan signifikan terhadap kondisi cuaca Tanah Air.
El Niño-Southern Oscillation (ENSO), kata Andri, terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah pada dinamika atmosfer skala global. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.
Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif melintasi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua, Papua Selatan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah ini.
Kemudian, gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Laut Sulu, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua, Papua Selatan, dan Laut Arafuru, sehingga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, BMKG juga memantau adanya Bibit siklon 91W di Samudra Pasifik utara Papua, dengan kecepatan angin maksimum sebesar 15 knot, Tekanan Udara Minimum 1007 hPa. Daerah konvergensi diprediksi memanjang di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra hingga Papua.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Secara umum, wilayah Tanah Air diprediksi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat selama sepekan ke depan.
Berikut wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat:
13-15 Januari
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- D.I Yogyakarta
- Jawa Timur
- NTB
- NTT
- Papua Pegunungan
16-19 Januari
- Sumatera Barat
- Jawa Timur
- NTT
- Papua Pegunungan
(lom/dmi)

















































