Ikuti Jepang, Korsel Konsul dengan Iran Biar Boleh Lewati Hormuz

3 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Korea Selatan sedang melakukan pembicaraan intensif dengan berbagai negara, terutama Iran, untuk memastikan normalisasi jalur pelayaran Selat Hormuz dengan cepat, seperti dikonfirmasi Kementerian Luar Negeri.

Hal itu dilakukan setelah Teheran menyatakan siap mengizinkan kapal-kapal tujuan Jepang untuk jalur laut yang praktis tertutup dalam beberapa waktu terakhir akibat krisis Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah memantau perkembangan di Timur Tengah dengan cermat sambil mencari cara untuk melindungi warga negara dan mengamankan jalur transportasi energi," kata pejabat tersebut seperti diberitakan Korea Herald, Sabtu (21/3).

"Kami secara aktif berkomunikasi dengan negara-negara terkait, termasuk Iran."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan kepada Kantor Berita Kyodo bahwa Teheran siap mengizinkan kapal-kapal tujuan Jepang melewati jalur pelayaran minyak utama setelah konsultasi yang tepat dengan Tokyo.

Selat Hormuz mencakup lebih dari 20 persen jalur perdagangan minyak dunia.

[Gambas:Video CNN]

Semua jalur yang dapat diakses oleh kapal tanker minyak berada di dalam perairan teritorial Iran, menjadikan selat tersebut sebagai jalur vital bagi negara-negara di Asia Timur, termasuk Korea Selatan dan Jepang.

Pada Jumat (20/3), Seoul mengatakan akan bergabung dengan tujuh negara, termasuk negara-negara Eropa dan Jepang, dalam pernyataan bersama mereka yang mengutuk serangan Iran di Teluk dan penutupan de facto Selat Hormuz.

Korea Selatan sebelumnya juga berkonsultasi dengan AS mengenai hal itu. Sumber mengungkapkan Korsel mencari begitu banyak opsi supaya kapal mereka bisa lewat.

"Terkait dengan cara kami berkontribusi dengan hubungan dan situasi yang terjadi di Selat Hormuz, kami dalam komunikasi intens dengan AS dan sekutu," kata perwakilan pemerintah Korsel. 

Ketegangan meningkat setelah serangan udara AS dan Israel, yang mendorong Iran untuk secara efektif memblokade selat tersebut dan menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi global.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya meminta Korea Selatan, Jepang, dan sekutu Eropa untuk mengirim kapal guna membantu mengamankan jalur perairan tersebut, tetapi negara-negara tersebut enggan untuk bergabung.

Dalam sebuah tindakan yang tampaknya menunjukkan rasa frustrasi, Trump mengatakan beberapa hari kemudian bahwa AS tidak lagi membutuhkan dukungan mereka.

(chri)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |