Inggris Ancam Blokir X, Elon Musk Meradang

4 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Elon Musk menuduh pemerintah Inggris berupaya membatasi kebebasan berekspresi dengan menekan platform media sosial X terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Hal tersebut disampaikan Musk usai pemerintah Inggris mengancam bakal memblokir X apabila tidak menghapus Grok, alat AI yang dapat digunakan untuk membuat gambar bermuatan seksual dari perempuan dan anak-anak tanpa persetujuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka hanya ingin membungkam kebebasan berbicara," kata Musk dalam cuitannya di X, melansir The Guardian, Sabtu (10/1).

Ribuan perempuan dilaporkan menjadi korban pelecehan akibat penyalahgunaan Grok yang dimanfaatkan untuk membuat foto tidak senonoh. Misalnya, banyak yang memanfaatkan Grok untuk membuat foto-foto gadis remaja dan anak-anak diubah untuk menampilkan mereka mengenakan pakaian renang.

Beberapa pengguna juga meminta untuk melihat memar di tubuh wanita, dan menambahkan darah ke dalam gambar. Ada juga Wanita ditampilkan terikat, dibekap, dan ditembak.

Para ahli mengatakan bahwa beberapa konten tersebut dapat dikategorikan sebagai materi pelecehan seksual anak.

Menteri Teknologi Inggris Liz Kendall mengatakan bahwa para menteri sedang mempertimbangkan serius kemungkinan pemblokiran akses ke X di Inggris.

Ia berharap kepada Ofcom, yang pada pekan ini menyatakan tengah meminta penjelasan mendesak dari platform tersebut, dapat mengumumkan langkah-langkah tindakan dalam hitungan hari, bukan minggu.Ia juga menambahkan bahwa X perlu segera mengambil tindakan dan menghapus materi tersebut.

"Dan saya ingin mengingatkan mereka bahwa dalam Undang-Undang Keamanan Daring, terdapat kewenangan cadangan untuk memblokir akses ke layanan jika mereka menolak mematuhi hukum bagi warga Inggris. Dan jika Ofcom memutuskan untuk menggunakan wewenang tersebut, mereka akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah," ungkap Kendall.

Kekhawatiran pemerintah Inggris juga diungkapkan oleh Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese.

"Warga global layak mendapatkan yang lebih baik," ucap Albanese di Canberra, Sabtu (10/1).

Australia baru-baru ini melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.

"Penggunaan kecerdasan buatan generatif untuk mengeksploitasi atau menseksualisasi orang tanpa persetujuan mereka adalah hal yang menjijikkan," katanya.

Ia menyatakan bahwa penggunaan alat yang memungkinkan orang membuat gambar melalui Grok merupakan hal yang sangat menjijikkan dan kembali menunjukkan bahwa media sosial tidak menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Pada Jumat, X membatasi akses ke Grok secara parsial. Akun publik tidak lagi dapat menghasilkan gambar atas permintaan pengguna gratis, sehingga fitur tersebut kini hanya tersedia bagi pelanggan berbayar. Selain itu, platform tersebut tampaknya juga menghentikan pembuatan gambar bikini.

Namun, aplikasi Grok, yang tidak menghasilkan gambar secara publik, masih dapat menciptakan materi eksplisit secara seksual dari gambar wanita.

Aplikasi nudifikasi lainnya masih tersedia. Jess Asato, anggota parlemen Partai Buruh yang berjuang melawan pelecehan seksual dan intimidasi terhadap wanita, mengatakan bahwa undang-undang untuk melarang aplikasi semacam itu sangat diperlukan.

"Bukan hanya XAi. Alat nudifikasi ini diiklankan kemarin di @YouTube," tulis unggahan Asato di media sosial.

Google sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada aturan yang dilanggar saat laporan tersebut muncul, sembari mengakui bahwa kebijakan terkait nudifikasi perlu dipercepat.

"Tidak ada aturan yang dilanggar," kata @Google saat dilaporkan.

Namun, juru bicara Google kemudian menegaskan bahwa iklan-iklan tersebut, tidak memiliki tempat di platform mereka dan akun pengiklan terkait telah ditangguhkan secara permanen.

Ia menambahkan bahwa layanan yang menawarkan pembuatan konten seksual, atau telanjang sintetis dilarang keras untuk beriklan melalui Google.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |