Jakarta, CNN Indonesia --
Otoritas kehakiman Iran membebaskan aset kapten timnas sepak bola putri Iran, Zahra Ghanbari, setelah dia membatalkan suaka di Australia.
Zahra Ghanbari adalah salah satu dari enam pemain yang membatalkan suaka dari Australia dan memutuskan kembali ke Iran.
Al Jazeera melaporkan, lembaga peradilan Iran telah membebaskan aset Ghanbari yang sempat disita karena sempat meminta suaka dari Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aset Zahra Ghanbari, seorang pesepakbola timnas wanita Iran, yang sempat disita, telah dibebaskan berdasarkan keputusan pengadilan," kata kantor berita Mizan Iran dikutip Al Jazeera.
Ghanbari termasuk di antara enam pemain dan satu anggota staf pendukung yang mencari suaka di Australia setelah bermain di Piala Asia Wanita 2026 pada Maret.
Ketujuh rombongan timnas putri Iran sempat mendapat suaka dari pemerintah Australia. Namun, lima di antaranya, termasuk Ghanbari, berubah pikiran untuk kembali ke Iran.
Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke mengatakan penawaran suaka kepada pemain dan staf timnas Iran karena kepedulian kemanusiaan.
Tony Burke mengaku khawatir rombongan pemain dan staf mendapat hukuman setelah kembali ke tanah air lantaran tim sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan di laga perdana Piala Asia Wanita 2026.
Setelah menyetujui suaka kepada tujuh pemohon, lima di antaranya berubah pikiran dan memutuskan pulang ke Iran. Mereka disambut bak pahlawan dalam acara khusus di pusat Teheran pada 19 Maret.
Keputusan membatalkan suaka muncul setelah media Iran menerbitkan daftar orang-orang yang asetnya dibekukan atas perintah pengadilan. Nama-nama tersebut dicap sebagai pengkhianat di masa perang menghadapi agresi AS dan Israel.
Nama Ghanbari muncul dalam daftar tersebut, meskipun tidak jelas kapan keputusan untuk membekukan asetnya diberlakukan.
Awal bulan ini, dua pemain yang mendapat suaka di Australia mengatakan kepada Al Jazeera, sebelum berubah pikiran mereka menghadapi "tekanan yang sangat besar" atas keputusan mereka.
Di tengah tekanan yang mencekik dan perang yang semakin memanas di Iran, sebuah pertanyaan menghantui pikiran mereka: haruskah ia pulang atau mencari suaka?
"Dilema ini menyebabkan saya cemas terus-menerus. Karena, setiap pilihan membawa konsekuensi bagi hidup saya pribadi, keluarga, dan masa depan karier olahraga saya."
(jun/jun/ptr)
Add
as a preferred source on Google


















































