Jakarta, CNN Indonesia --
Serangan Israel yang dibantu Amerika Serikat berlangsung lebih dari sepekan. Iran bahkan siap untuk melanjutkan perang jangka panjang.
Sementara Amerika Serikat malah akan segera mengakhirinya dengan klaim sudah memenangkan perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian menampik klaim AS itu dan menyatakan perang baru akan berakhir tergantung mereka.
Mengapa Iran begitu percaya diri mampu melawan AS dan Israel dalam perang dalam jangka panjang?
Para pengamat militer menyebut Iran sedang menggunakan strategi perang atrisi (atrition war), yaitu strategi untuk menguras ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Fokus perang ini adalah perang berlarut-larut yang dirancang untuk menimbulkan biaya ekonomi dan psikologis yang tinggi tanpa harus terlibat dalam perang konvensional terbuka secara langsung. Strategi ini menggunakan "poros perlawanan (proksi)" dan taktik asimetris.
Pakar keamanan Timur Tengah dari lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI), Inggris, HA Hellyer, mengatakan pendekatan militer Iran saat ini bukan untuk mengalahkan Amerika Serikat atau Israel "dalam perang konvensional, melainkan untuk membuat konflik menjadi 'berlarut-larut', tersebar secara regional, dan mahal secara ekonomi," dikutip dari laman BBC.
Hal senada disampaikan Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI), Sciences Po, Prancis. Menurut dia, strategi Iran dengan perang atrisi, yaitu pendekatan militer yang bertujuan melemahkan lawan dengan menguras sumber daya dan menimbulkan kerugian berkelanjutan sampai kemampuan bertempur lawan melemah.
Hal itu didukung fakta bahwa harga yang ditanggung AS dan Israel dalam serangan ke Iran memakan dana yang fantastis. Beberapa hari setelah AS melancarkan operasi militer besar terhadap Iran, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak AS mulai menjadi sorotan dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.
Dari sisi biaya rudal, Iran lebih hemat dibandingkan AS dan Israel. Iran selama ini mengandalkan drone Shahed 136.
Ternyata ini adalah drone yang cukup murah, satu unit Shahed 136 hanya berharga sekitar US$20.000 dolar atau berkisar Rp338 juta. Laman Scientific American menjelaskan bahwa harga Shahed 136 diperkirakan berada pada kisaran US$20.000-US$50.000 atau setara Rp338 juta hingga Rp845 juta.
Biaya yang mahal justeru ada pada rudal pencegatnya. Analis JINSA (Jewish Institute for National Security of America) menunjukkan bahwa serangan rudal Iran, seringkali masif.
"Iran mengandalkan taktik salvo attacks (serangan serentak masif) untuk menjenuhkan sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dan Arrow di Israel. Pada awal 2026, Iran dilaporkan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone sebagai respons terhadap serangan AS-Israel.
Dampaknya serangan besar-besaran Iran menguras sumber daya Israel dan Amerika Serikat. Sistem rudal pertahanan udara Arrow-3 berharga US$3 juta per unit atau mencapai angka Rp50 miliar.
Peneliti dari Gulf International Forum (gulfif.org) mengatakan, karena kekurangan kekuatan militer konvensional untuk menghadapi Washington dan Tel Aviv secara langsung, Teheran telah menggunakan strategi perang asimetris yang dirancang untuk melambungkan biaya musuh.
Strategi ini terlihat jelas di dua bidang utama. Pertama, Iran telah meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur ekonomi penting di Teluk, menargetkan fasilitas minyak dan gas di Arab Saudi dan Qatar.
Kedua, Iran telah berupaya mengganggu Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia. Dengan menyerang infrastruktur energi, kapal tanker minyak, dan menyatakan selat tersebut sebagai zona perang, Teheran bertujuan memberikan tekanan ekonomi pada negara-negara Teluk dan komunitas internasional yang lebih luas dengan harapan mendorong Washington untuk melakukan de-eskalasi
(imf/bac)


















































