Jakarta, CNN Indonesia --
Israel kembali melancarkan serangan udara ke Gaza untuk hari kedua berturut-turut pada Minggu (2/8), menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump soal adanya terobosan dalam upaya menjalankan kesepakatan gencatan senjata Gaza tahun lalu.
Menurut pejabat kesehatan Palestina, pesawat tempur Israel melancarkan serangan terpisah di Kota Gaza utara, Deir al-Balah di tengah, dan Khan Younis di selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tenaga medis menyebut seorang pria dan istrinya tewas serta empat orang luka-luka dalam serangan ke sebuah apartemen di Deir al-Balah, sementara dua orang lain, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan ke apartemen di Kota Gaza.
Seorang ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka yang berusia 9 tahun tewas menjelang fajar setelah serangan ke rumah mereka di kawasan Mawasi, Khan Younis. Satu orang lain tewas di dekat Jabalia, Gaza utara.
Militer Israel menyatakan serangan di Deir al-Balah menyasar dua komandan pasukan elite Hamas, Nukhba. Serangan di Kota Gaza dan Jabalia disebut juga menyasar operatif militer, meski militer menyebut masih meninjau situasinya.
Menteri Energi Israel Eli Cohen, yang juga anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan tidak ada kesepakatan untuk menghentikan serangan ke Gaza. Ia menyebut perlunya Israel, yang menurut Reuters sudah menguasai 70 persen Jalur Gaza, mengambil kendali penuh atasnya.
Kepada Army Radio, Cohen menyatakan tidak percaya Hamas akan melucuti senjata, dan menduga kelompok itu justru akan bermain-main serta berupaya menyembunyikan persenjataannya.
Klaim terobosan Trump
Trump mengatakan pada Kamis (30/7) telah terjadi terobosan, setelah Hamas setuju melucuti senjata di bawah inisiatif yang didukung AS untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai tahun lalu di Mesir.
Board of Peace, badan pimpinan AS yang mengawasi gencatan senjata itu, menerbitkan peta jalan 15 poin pada Jumat (31/7) berisi langkah-langkah akhir penerapan kesepakatan.
Namun peta jalan itu belum diterapkan. Menurut Hamas, mereka baru akan menyerahkan senjata untuk disimpan setelah Israel menghentikan operasi militer dan menarik pasukannya sesuai kesepakatan tahun lalu.
Seorang pejabat Israel mengatakan kepada Reuters tidak akan ada penarikan dari posisi militer saat ini kecuali Hamas menjalani "pelucutan senjata sungguhan".
Netanyahu belum berkomentar terbuka soal inisiatif ini, sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyebutnya tak bisa diterima dan menyatakan Israel semestinya terus melakukan pembunuhan tertarget terhadap pemimpin Hamas.
Mantan pejabat senior Fatah, Mohammed Dahlan, yang bermukim di Uni Emirat Arab, menyatakan lewat unggahan Facebook bahwa Jared Kushner, menantu Trump sekaligus penasihat senior yang terlibat dalam inisiatif ini, mengaku sedang bekerja dengan pihak Israel untuk menghentikan serangan ke Gaza.
Klaim ini belum dikonfirmasi pihak lain: Reuters mencatat belum ada tanggapan dari Israel maupun Departemen Luar Negeri AS soal pernyataan Dahlan tersebut.
Sedikitnya 1.230 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025, meski kesepakatan itu berlaku hingga kini.
(fea/fea)


















































