Jejak Sunyi 2 Ribu Warga Baduy Menuju Ritual Seba

3 hours ago 6

CNN Indonesia

Sabtu, 25 Apr 2026 18:07 WIB

Ribuan warga Baduy menempuh ratusan kilometer demi Seba, ritual sakral yang menjaga harmoni alam dan hubungan dengan pemerintah. Ilustrasi. Tradisi Seba yang dilakukan masyarakat Baduy. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Jakarta, CNN Indonesia --

Langit masih gelap ketika sebagian besar orang terlelap. Jarum jam baru menunjuk pukul 03.00 WIB, saat puluhan warga Baduy Dalam mulai melangkah pelan menembus hutan di kawasan Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Tanpa lampu, tanpa alas kaki modern, hanya berbekal keyakinan dan tradisi, mereka berjalan dalam sunyi.

Langkah-langkah itu bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah bagian dari napas panjang tradisi yang disebut Seba, ritual tahunan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.

Tahun ini, sekitar 2.000 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar ikut serta. Mereka datang dari kampung-kampung inti di Desa Kanekes seperti Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik, menempuh perjalanan hingga 200 kilometer pulang-pergi menuju Rangkasbitung dan Kota Serang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi warga Baduy Dalam, perjalanan ini harus ditempuh dengan berjalan kaki. Pakaian putih yang mereka kenakan menjadi simbol kesederhanaan sekaligus ketaatan pada adat. Sementara warga Baduy Luar diperbolehkan menggunakan kendaraan.

Di sepanjang perjalanan, bekal mereka sederhana, hanya nasi, umbi-umbian, dan hasil ladang. Namun bagi mereka, kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan.

"Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba setelah menjalani Kawalu selama tiga bulan. Ini sudah menjadi aturan dari leluhur," ujar Rahman (50), warga Baduy Dalam.

Seba bukan sekadar seremoni. Ia adalah bentuk silaturahmi sekaligus dialog adat antara masyarakat Baduy dan pemerintah. Dalam tradisi ini, mereka mendatangi kepala daerah, yang disebut sebagai 'Bapak Gede' untuk menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi, buah-buahan, hingga laksa.

Ribuan 'petapa' turun gunung, dari Desa Ciboleger menuju Pendopo Lama Gubernur Banten, untuk melakukan ritual rutin tahunan bernama Seba Baduy.Ritual Seba Baduy. (CNN Indonesia/Yandhi)

Di balik simbol itu, terselip pesan sederhana namun mendalam: harapan akan kehidupan yang aman, damai, dan alam yang tetap terjaga.

"Kami berterima kasih karena sekarang kondisi sudah aman. Tidak ada lagi ternak hilang dan hutan juga tidak dirusak," kata Rahman.

Bagi sebagian warga, Seba adalah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan. Ato (55) menyebut, ketidakhadiran dalam ritual ini diyakini dapat membawa konsekuensi buruk menurut kepercayaan adat.

"Ini sudah berlangsung sejak zaman leluhur dan Kesultanan Banten. Harus tetap dilaksanakan," ujarnya.

Setibanya di Pendopo Kabupaten Lebak, ribuan warga Baduy disambut berbagai kegiatan budaya. Pameran UMKM, wayang golek, tarian tradisional, hingga pertunjukan debus digelar untuk menyambut mereka.

Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menyebut masyarakat Baduy sebagai teladan dalam menjaga kehidupan.

"Mereka menjaga alam, budaya, adat istiadat, disiplin, hidup dari bertani, dan memiliki keyakinan kuat. Itu yang harus diteladani," katanya.

Di balik seluruh rangkaian Seba, tersimpan makna yang lebih dalam. Tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menjelaskan bahwa penyerahan hasil bumi adalah simbol penghormatan sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah.

Namun, kekuatan utama masyarakat Baduy justru terletak pada cara mereka merawat alam.

Di wilayah adat seluas sekitar 5.200 hektare, mereka mempertahankan hutan sebagai kawasan lindung. Puluhan aliran sungai yang berhulu dari wilayah ini tetap jernih, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di hilir Banten.

"Kami menjaga hutan karena itu amanah leluhur. Kalau hutan rusak, kehidupan juga akan terganggu," ujar Saidi Yunior, tetua adat Baduy Tangtu.

Aturan adat melarang keras perusakan hutan, termasuk kawasan yang dikenal sebagai hutan tutupan. Bahkan, puluhan gunung di wilayah Banten dijaga agar tidak dieksploitasi.

Upaya ini membuat masyarakat Baduy menjadi salah satu contoh nyata praktik hidup berkelanjutan di tengah tekanan modernisasi.

Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, mengakui peran penting tersebut.

"Masyarakat Baduy telah menunjukkan bagaimana menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Ini penting untuk keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem," ujarnya.

Ritual adat Seba Baduy mendekati puncaknya, pada Sabtu malam nanti, 25 April 2026. Setelah mereka menyambangi Bupati Lebak, pada Jumat, 24 April 2026 kemarin.Ritual adat seba. (CNN Indonesia/Yandhi)

Di sisi lain, pemerintah daerah mulai melihat Seba sebagai potensi budaya dan pariwisata. Perayaan ini ditargetkan masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN), dengan harapan mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Namun, di tengah berbagai upaya pengembangan itu, satu hal tetap dijaga, nilai-nilai adat tidak boleh tergeser.

Peneliti dari Leiden University, Jet Bakels, menilai kekuatan masyarakat Baduy terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, masyarakat Baduy justru memilih berjalan perlahan. Tanpa listrik, tanpa teknologi modern, mereka hidup selaras dengan alam, rumah dari bambu, hutan sebagai penopang kehidupan, dan tradisi sebagai penuntun arah.

Perjalanan dini hari menuju Seba mungkin terlihat sederhana. Namun di setiap langkahnya, tersimpan komitmen panjang: menjaga alam, merawat tradisi, dan mempertahankan keseimbangan hidup.

Dalam sunyi langkah mereka, ada pesan yang lantang, bahwa harmoni dengan alam bukan sekadar pilihan, melainkan jalan hidup.

(ynd/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |