Jakarta, CNN Indonesia --
Dampak psikologis dari konflik berkepanjangan Israel dengan Hamas terus menunjukkan wajah aslinya belakangan ini.
Israel kini tengah menghadapi krisis kesehatan mental yang serius dengan lonjakan drastis kasus Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) dan angka bunuh diri di kalangan pasukannya setelah dua tahun agresi militer di Jalur Gaza.
Di sisi lain, para ahli kesehatan mental Palestina menyebut warga Gaza tengah mengalami "gunung berapi" trauma psikologis yang siap meledak akibat kehancuran total di wilayah kantong tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir The Arab Weekly, Kementerian Pertahanan Israel mencatatkan statistik yang mengkhawatirkan. Kasus PTSD di kalangan tentara meningkat hampir 40 persen sejak September 2023, dan angka ini diprediksi akan meroket hingga 180 persen pada tahun 2028.
Dari 22.300 personel militer Israel yang dirawat karena luka perang, 60 persen di antaranya menderita trauma psikis.
Maccabi, penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di Israel, melaporkan bahwa 39 persen personel militer yang mereka tangani mencari dukungan kesehatan mental, dengan 26 persen di antaranya mengeluhkan depresi.
Ronen Sidi, psikolog klinis dari Emek Medical Centre, menjelaskan bahwa tentara terjepit di antara dua sumber trauma. Pertama adalah ketakutan akan kematian saat bertugas di Gaza dan Lebanon. Kedua, yang jauh lebih berat, adalah cedera moral.
"Banyak keputusan yang diambil dalam hitungan detik di bawah tekanan tembakan. Terkadang keputusan itu salah, mengakibatkan wanita dan anak-anak terluka atau tewas secara tidak sengaja," ujar Sidi.
"Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan tidak bisa diperbaiki," sambungnya.
Seorang reservis bernama Paul (28) mengaku terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek karena suara "siulan peluru" terus terngiang di telinganya meski sudah berada di rumah. "Saya hidup dalam kondisi waspada setiap hari," ungkapnya.
Komite parlemen Israel menemukan bahwa 279 tentara melakukan percobaan bunuh diri dalam periode Januari 2024 hingga Juli 2025. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa personel tempur menyumbang 78 persen dari seluruh kasus bunuh diri di Israel.
Proses administrasi yang berbelit-belit untuk mendapatkan pengakuan resmi sebagai penderita PTSD dari pemerintah Negeri Zionis sering kali memakan waktu berbulan-bulan, yang menurut para ahli justru memperburuk kondisi mental para prajurit.
Jika tentara Israel berjuang dengan PTSD, warga Gaza menghadapi horor yang lebih sistematis. Dengan lebih dari 71.000 warga Palestina tewas, anak-anak di Gaza kini menderita gejala traumatis akut seperti teror malam (night terrors) dan hilangnya kemampuan fokus.
Pakar kesehatan mental di Gaza menekankan bahwa warga tidak hanya kehilangan rumah dan anggota keluarga, tetapi juga akses dasar ke layanan medis. Di tengah gencatan senjata yang rapuh dan pendudukan militer yang masih berlangsung di lebih dari separuh wilayah Gaza, siklus trauma ini diprediksi akan menghantui generasi mendatang di kedua belah pihak.
(wiw)















































