'Kiamat Iklim' Semakin Dekat, Tandanya Muncul di Selatan Greenland

1 hour ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

'Kiamat iklim' atau krisis iklim terparah sepanjang sejarah semakin dekat bagi seluruh kehidupan di muka bumi.

Tanda-tanda tersebut mulai muncul di perairan Atlantik utara, tepatnya di sebelah selatan Pulau Greenland dan Islandia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di saat rata-rata suhu seluruh permukaan laut bumi naik, suhu udara di perairan tersebut malah turun atau mendingin.

Para ahli pun menemukan jawaban anomali tersebut sebagai tanda-tanda yang amat mengkhawatirkan ke depan sebagai krisis iklim yang paling parah.

Gejala pendinginan hamparan laut tersebut dijuluki sebagai "gumpalan dingin" atau "lubang pemanasan" yang telah mendingin hampir 1 derajat Celsius (1,8 Fahrenheit) sejak tahun 1900.

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan apakah anomali ini disebabkan oleh hilangnya panas dari permukaan laut akibat perubahan angin dan awan, atau apakah ini merupakan sinyal melemahnya sistem arus laut penting yang mengangkut panas.

Penelitian baru ini menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah yang terakhir dan temuan ini menunjukkan masa depan yang mengkhawatirkan.

Gejala alam The Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) bekerja seperti sabuk konveyor laut yang luas. AMOC menarik air hangat dari daerah tropis ke Belahan Bumi Utara, di mana air tersebut mendingin, tenggelam, dan mengalir kembali ke selatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem ini melemah karena pemanasan global yang disebabkan oleh manusia mengakibatkan es mencair dan lonjakan air tawar ke laut. Gejala itu mengganggu keseimbangan panas dan salinitas AMOC yang rapuh.

Beberapa ilmuwan memperingatkan bahwa AMOC sedang menuju titik kritis, berpotensi terjadi paling cepat pada abad ini, yang berarti keruntuhan di masa depan sudah pasti terjadi, dikutip dari CNN.

Penghentian AMOC akan menjadi bencana global, menyebabkan percepatan kenaikan permukaan laut di Pantai Timur AS, menjerumuskan Eropa ke dalam musim dingin yang membekukan, dan menggeser monsun di Afrika yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Gumpalan dingin tersebut ditafsirkan oleh beberapa pihak sebagai jejak perubahan AMOC karena merupakan wilayah tempat AMOC membawa sebagian besar panasnya.

Untuk lebih memahami apa yang terjadi di bagian Atlantik ini, para ilmuwan menelitinya dengan menggabungkan data panas laut dunia nyata dari instrumen dan satelit dengan model iklim.

Mereka menemukan bahwa pendinginan di gumpalan dingin tersebut tidak hanya terjadi di permukaan tetapi juga jauh di dalam laut, di mana kondisi atmosfer seperti angin dan awan memiliki pengaruh yang jauh lebih lemah.

Semua tanda mengarah pada pengaruh AMOC, demikian temuan studi tersebut.

"Hal ini mengubah transportasi panas laut" yang mendorong pendinginan gumpalan dingin tersebut, kata Stefan Rahmstorf, penulis studi dan profesor fisika dan kelautan di Universitas Potsdam, Jerman.

Banyak bukti lain pula bahwa AMOC melemah, terlepas dari gumpalan dingin tersebut, ia menambahkan, dengan beberapa studi menunjukkan bahwa AMOC berada pada titik terlemahnya dalam sekitar 1.000 tahun terakhir.

(bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |