Jakarta, CNN Indonesia --
Hubungan Amerika Serikat dan Iran pernah baik bahkan bersahabat dekat pada tahun 1950-an, di masa monarki Shah Reza Pahlavi.
Persahabatan kedua negara itu diikat oleh kepentingan minyak yang melimpah di Iran. Iran adalah negara pertama di Timur Tengah yang tanahnya digali untuk menghasilkan minyak, ditemukan pada 1908 oleh William d'Archy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun kemudian The Anglo Persian Company didirikan dan tahun 1951 berubah menjadi British Petroleum dengan 51% saham dimiliki pemerintah Inggris. Namun, saat Mohammad Mosadegh terpilih menjadi perdana menteri Iran secara demokratis pada 1951, semua perusahaan asing dinasionalisasi.
Tak senang dengan cara ini, Inggris bekerjasama dengan Amerika Serikat pun berkomplot menjatuhkan Mosadegh.
Di bawah kendali Kepala CIA Kermit Roosevelt, demo dan kerusuhan pun dirancang. Menurut Stephen Kinzer, penulis buku "All the Shah's Men", Kermit dengan cepat menguasai pers Iran dengan menyuap mereka dan menyebarkan propaganda anti-Mossadegh.
Ia merekrut sekutu di antara ulama Islam, dan membuat berita palsu bahwa Mossadegh adalah ancaman.
Langkah selanjutnya melibatkan upaya dramatis untuk menangkap Mossadegh di rumahnya di tengah malam. Tetapi kudeta itu gagal. Mossadegh mengetahuinya dan melawan balik. Keesokan paginya, ia mengumumkan kemenangan melalui radio.
Tapi AS dan Inggris tidak mau tinggal diam. Dengan mendekati kelompok oposisi dan para pendemo, mereka terus membuat propaganda bahwa Mosadegh adalah ancaman masyarakat Iran.
Pelan tapi pasti, hanya dalam tempo empat hari CIA dan M16 (intelijen Inggris) berhasil menggulingkan Mosadegh pada 19 Agustu 1953. Sang PM yang sebenarnya disukai rakyatnya itu menjadi pesakitan, duduk di pengadilan menghadapi dakwaan.
Amerika pun kembali mengangkat Raja Pahlavi ke tampuk kekuasaan. Perusahan minyak negara-negara barat yang dinasionalisasi kembali masuk dan beroperasi.
Melalui Konsorsium Minyak Iran (IOP), yang dipimpin oleh British Petroleum (BP, dulu Anglo-Persian Oil Company) lima perusahaan barat masuk, British Petroleum (BP) memegang 40%, Lima perusahaan Amerika (The "Seven Sisters") memegang 40%, Perusahaan minyak Belanda (Royal Dutch Shell) memegang 14% dan Perusahaan minyak Prancis (Compagnie Française des Pétroles) memegang 6%. Mereka bersama-sama mengoperasikan minyak Iran dengan pembagian keuntungan 50-50 dengan pemerintah Iran.
Namun pada 1979 lewat Revolusi Islam Iran, Shah Reza Pahlevi kembali terjungkal. Perusahaan minyak barat kembali hengkang dari Iran. Masa itu menjadi babak baru hubungan Iran dan negara-negara barat, diwakili AS, yang terus saling ancam.
Keterlibatan Amerika dalam penggulingan Mosadegh pun dipublikasika oleh dokumen CIA yang terbit pada 19 Agustus 2013. CIA secara terbuka mengakui untuk pertama kalinya keterlibatannya dalam kudeta tahun 1953 terhadap Perdana Menteri Iran terpilih Mohammad Mossadegh.
Dokumen-dokumen tersebut memberikan rincian rencana CIA pada saat itu, bahkan Kermit Roosevelt mengatur bukan hanya satu, tetapi dua upaya untuk menggoyahkan pemerintahan Iran, yang selamanya mengubah hubungan antara negara tersebut dan AS.
(imf/bac)















































