Kisah Saudi Geram AS Bantu Israel hingga Gempar Harga Minyak Meroket

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Intervensi Amerika Serikat dalam Perang Yom Kippur pada 1973 antara Israel dan Mesir yang dibantu Suriah ternyata sempat memicu ketegangan antara Negeri Paman Sam dan Arab Saudi.

Saat itu, AS ikut campur lantaran Perang Yom Kippur melibatkan sekutu dekatnya di Timur Tengah, Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden AS Richard Nixon secara resmi mengajukan permintaan kepada Kongres AS agar menyetujui bantuan sebesar 2,2 miliar dollar AS. Padahal, yang dibutuhkan sebenarnya hanya 850 juta doollar AS saja.

Tapi Nixon berkata, "Aku tak mau main kecil-kecilan kalau yang dipertaruhkan cukup besar," katanya seperti dikutip dari buku Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia karya Robert Lacey.

Permintaan disetujui. Pada 25 Oktober 1973, Nixon memerintahkan semua kekuatan Amerika untuk "bersiaga nuklir". Dia kirimkan 550 penebangan angkutan persenjataan ke Tel Aviv. Mesir dan Suriah pun terdesak. Israel di atas angin karena mendapatkan bantuan dana dan militer yang sangat besar dari AS.

Namun, bantuan ke Israel ini membuat Arab Saudi marah. Raja Faisal yang sudah lama tidak senang pada Israel yang mencaplok tanah Palestina seenaknya membuat keputusan yang dikenang dunia sebagai krisis minyak pertama di dunia setelah Perang Dunia II.

Dia melalukan embargo minyak terutama ke Amerika Serikat. Tercatat 638.500 barel yang selama ini mengalir ke negara kuat itu, disetop selama hampir setahun. Dampaknya langsung terasa: harga minyak melonjak gila-gila hingga 300 persen.

Digambarkan, kala belum terjadi embargo, arus perjalanan orang Amerika dari kota ke desa-desa sangat lancar. Uang saku anak muda selalu penuh yang menyebabkan budaya pop berkembang mulai dari musik, seni hingga penggunaan narkoba.

Namun sejak embargo diberlakukan, pom bensin memberlakukan penjatahan bahkan banyak gedung yang mematikan lampunya. Bahkan temperatur alat pemanas di Gedung Putih tiba-tiba jadi pembicaraan nasional. Bukan hanya Amerika, dampak ini menjalar ke seluruh dunia. Menteri Perdagangan Inggris Peter Walker harus menghadap Raja Faisal minta jatah.

Para menteri luar negeri negara-negara mengadakan pertemuan dua minggu setelah embargo diberlakukan. Lalu Menteri Luar Negeri Jepang harus ke Riyadh untuk membicarakan "peningkatan hubungan bilateral".

Dampaknya cukup efektif, dunia mulai mengecam Israel dan meminta agar perang dihentikan. Pada tanggal 22 Februari 1974, Raja Faisal memimpin pertemuan puncak kedua negara-negara Islam di Islamabad.

Disana dia dielukan sebagai "pahlawan penakluk" yang mempermalukan dan merendahkan negara-negara Barat dengan menghancurkan perekonomiannya.

Setelah 10 bulan embargo, pada tanggal 18 Maret 1974 dilaporkan Amerika Serikat mulai bersikap lebih "adil".

Dan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger berjanji untuk menjual senjata ke Arab Saudi yang sebelumnya ditolak dengan alasan bahwa senjata itu mungkin digunakan untuk melawan Israel.

"Maka beberapa bulan setelah embargo, Faisal bin Abdul Azis dikatakan mempunyai kekuatan dan arti internasional yang lebih berat dari pada raja-raja Arab manapun selama berabad-abad terakhir ini," kata Robert Lacey memuji langkah Raja Faisal.

(imf/rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |