KKP Pastikan MBG Bukan Pemicu Harga Ikan Naik Jelang Ramadan

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan penyebab harga ikan melambung di pasaran menjelang Ramadan.

Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Machmud menyebut kenaikan harga yang terjadi lebih dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat, bukan dampak dari program tersebut.

"Menurut kami belum. Sampai sekarang itu belum, karena posisinya untuk lele dan nila juga itu sudah ada di situ. Jadi tidak mengganggu pasar di sana," kata Machmud di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Machmud menjelaskan berdasarkan pemantauan langsung KKP di sejumlah pasar, termasuk Pasar Pabean Surabaya, harga ikan menjelang Ramadan memang naik, tetapi relatif kecil. Bahkan, beberapa jenis ikan tercatat mengalami penurunan harga karena pasokan yang melimpah.

Ia menyebut ikan seperti kembung, selar, dan layang sempat turun harga akibat meningkatnya produksi dari wilayah Madura. Sementara itu, harga ikan budidaya seperti nila dan lele cenderung stabil di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, stabilitas harga sangat bergantung pada kelancaran produksi dan distribusi. Pedagang dan pembeli di pasar juga menyampaikan bahwa harga cenderung stabil apabila pasokan tersedia dalam jumlah cukup.

"Memang ada (harga) yang naik biasanya itu ikan-ikan yang memang tidak diproduksi, dan agak cenderung stoknya kurang, tapi tidak terlalu banyak. Jadi para pedagang kemarin menyampaikan ke kami, bila produksi kemudian distribusi itu lancar, itu harga-harga stabil, itu yang disampaikan ke kami dan kami juga tanya langsung kepada para pedagang dan juga para pembeli," jelasnya.

Machmud mengatakan kenaikan harga yang terjadi di beberapa komoditas ikan disebabkan tingginya permintaan masyarakat menjelang Ramadan. Ia mencontohkan penjualan di pasar yang meningkat signifikan dan stok cepat habis dalam waktu singkat.

"Kenaikan itu karena permintaan. Permintaan menjelang Ramadan itu cukup tinggi. Cumi waktu datang tidak sampai 15 menit sudah terjual semua, baru datang sudah habis," ujarnya.

Ia juga mencatat komoditas seperti kakap merah dan cumi menjadi salah satu yang paling cepat terjual, mencerminkan meningkatnya konsumsi ikan di masyarakat.

Terkait program MBG, Machmud menyebut penggunaan ikan sebagai menu program tersebut masih belum berdampak signifikan terhadap pasar. Saat ini, pasokan ikan untuk MBG didukung oleh kerja sama dengan pelaku usaha mikro dan kecil serta pengembangan budidaya tematik oleh KKP.

Menurut data KKP, hampir 100 pelaku usaha mikro kelautan dan perikanan telah bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG dalam penyediaan bahan baku ikan, terutama lele dan nila. Selain itu, KKP juga mengembangkan program budidaya tematik di sekitar 100 titik di Pulau Jawa untuk memperkuat pasokan.

Machmud menambahkan pemerintah terus mendorong peningkatan produksi ikan sebagai sumber protein nasional agar kebutuhan program MBG maupun konsumsi masyarakat dapat terpenuhi.

"Ke depan ya sumber protein ikan kita juga akan semakin banyak. Sehingga kalau nanti kebutuhan untuk MBG yang 82,9 juta (penerima manfaat), kalau nanti ikan kita siap," katanya.

(del/pta)

Read Entire Article
| | | |