Jakarta, CNN Indonesia --
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp52,102 triliun atau Rp346 per saham dari laba tahun buku 2025 yang menembus Rp57,13 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 10 April 2026 dan sudah termasuk dividen interim yang telah dibayarkan sebelumnya.
Ia mengatakan pembagian dividen itu didukung kinerja keuangan perseroan yang tetap solid sepanjang 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dividen payout ratio sekitar 92 persen. Ini mencerminkan komitmen BRI menjaga keseimbangan antara imbal hasil bagi investor dan penguatan fundamental perusahaan," kata Hery dalam konferensi pers secara daring, Kamis (30/4).
Hery juga buka suara soal bagaimana saham dengan fundamental kuat seperti BBRI dapat memberikan imbal hasil stabil, termasuk dari dividen.
"Walaupun harga saham (BBRI) mengalami tekanan 16 persen, enggak usah dilihat itu, (yang) dilihat dividen rasionya. Dividen kita kan cukup bagus, paling tidak bisa memberikan 10-11 persen return per tahun," ujar Hery.
"Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen. Kemudian reksadana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen. Tapi kalau anda misalnya mau trading itu hal lain ya," imbuhnya.
Ia berbagi tips jika investor ingin memiliki saham blue chip dengan fundamental perusahaan kuat, maka tidak perlu melihat fluktuasi harga sahamnya.
Sementara itu, dengan kondisi makro ekonomi global dan dalam negeri yang membaik, ia optimistis indeks dan saham-saham akan merespons situasi dengan kenaikan.
Kinerja BRI pada kuartal I 2026 tetap menunjukkan tren positif, di tengah dinamika ekonomi global. Total aset tumbuh 7,2 persen secara tahunan menjadi Rp2.250 triliun, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp1.555 triliun atau naik 9,4 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong dana murah (CASA) yang meningkat 13,2 persen menjadi Rp1.058,6 triliun.
Penyaluran kredit dan pembiayaan juga naik 13,7 persen secara tahunan menjadi Rp1.562 triliun, dengan segmen UMKM tetap menjadi penopang utama sebesar Rp1.211 triliun.
Adapun dari sisi profitabilitas, laba bersih triwulan I 2026 tercatat Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Kualitas aset turut membaik, tercermin dari penurunan loan at risk (LAR) dari 11,1 persen menjadi 9,7 persen.
(dhz/ins)
Add
as a preferred source on Google


















































