CNN Indonesia
Sabtu, 14 Mar 2026 17:40 WIB
Masjid Luar Batang di Penjaringan, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jakarta memiliki sejumlah masjid bersejarah dengan berbagai cerita masa lampau tentang penyebaran Islam di tanah air. Di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara terdapat salah satu masjid tertua Jakarta yang merekam jejak bersejarah.
Di suatu masa, terkisah Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang merupakan ulama berketurunan Arab. Habib Husein yang asli dari Hadramaut, Yaman terkenal sering membagikan wawasannya yang luas dengan berdakwah. Penyampaiannya terasa damai dan welas asih.
Dari ajarannya, ia mendorong masyarakat hidup dengan nilai kebajikan dan kasih sayang, ditambah lagi dengan basis keagamaan yang penuh tauladan. Karena hal ini, ia dihormati oleh masyarakat setempat, khususnya penduduk Betawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 1739, Habib Husein mendirikan sebuah masjid. Awalnya bernama Masjid An Nur, dibangun sederhana menggunakan kayu. Sudah ada sejak tahun tersebut, hari ini masjid ini bisa disebut sebagai masjid moyang karena usianya yang melebihi 287 tahun.
"Awalnya ini bernama Masjid An Nur, bentuknya belum seperti ini, sederhana pakai kayu," cerita Sekretaris Masjid Luar Batang, Mansur Amin yang akrab disapa Daeng Mansur, seperti dilansir Detik.
Habib Husein, kata Daeng Mansur, menyebarluaskan agama Islam di Batavia dengan cara yang mudah diterima. Merangkul masyarakat dari berbagai kalangan, tak memandang itu kaum pribumi maupun budak pada saat itu.
Konon ceritanya setelah kepergian Habib Husein dan jenazahnya hendak dimakamkan, secara tiba-tiba peti jenazah Habib Husein menghilang. Anehnya, jenazah Habib Husein ditemukan kembali di tempat semula tetapi di "luar batang".
Masyarakat menyebutnya "luar batang", artinya peti mati (batang). Kemudian penduduk setempat memakamkan Habib Husein di tempat yang dulu sering menjadi lokasi dakwah sang Habib. Sejak hari itu, Masjid An Nur berganti nama menjadi Masjid Luar Batang.
Entah apakah cerita tersebut benar adanya, karena terdapat versi cerita lain yang percaya bahwa nama "luar batang" ini diambil dari kebiasaan di pelabuhan, berhubung lokasi masjid yang juga ada di pesisir Jakarta.
Kapal asing yang tidak membayar pajak akan dilarang masuk ke area pelabuhan (dalam batang), sehingga perlu menunggu di luar pelabuhan yang ditandai oleh batang pohon. Oleh karena itu, kawasan ini dijuluki sebagai "Luar Batang".
Hari ini, Masjid Luar Batang menjadi jejak sejarah penyebaran Islam di kawasan pesisir Jakarta, khususnya di sekitar Penjaringan, Jakarta Utara. Bangunannya masih berdiri hingga hari ini, menjadi tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial, pendidikan agama, hingga tempat kebudayaan.
Di bagian depan masjid, ada gapura yang menyambut pengunjung, ini adalah gerbang masuk sebelum ke area masjid. Sementara dari segi bangunannya, terlihat tradisional khas arsitektur Betawi dengan sentuhan gaya Timur Tengah.
Bagian kanan dan kiri masjid diapit oleh dua menara setinggi 57 meter. Menara ini baru dibangun pada tahun 2008, menggantikan menara lama berusia 150 tahun yang ukurannya lebih pendek.
Struktur bangunan Masjid Luar Batang sederhana, tetapi auranya benar-benar terasa magis dan religius. Terlebih lagi, dalam masjid ini terdapat makam Habib Husein. Banyak jamaah yang datang sekalian berziarah ke makamnya, terutama ketika peringatan haul Habib Husein.
Masjid Luar Batang adalah saksi bisu perkembangan Islam di Jakarta sejak era kolonial, terus merekam semua peristiwa dalam diam hingga era modern seperti saat ini. Pengunjung silih berganti berkunjung untuk mengenang sejarah panjang tersebut, setiap hari ribuan jamaah dari berbagai daerah yang memenuhi masjid satu lantai tersebut.
"Setiap minggu ada 10.000 orang yang datang ke sini. Apalagi kalau akhir pekan, Jumat, Sabtu, Minggu bisa membludak penuh," tambah Daeng Mansur.
(ana/wiw)
Add
as a preferred source on Google

















































