CNN Indonesia
Sabtu, 02 Mei 2026 04:30 WIB
Ilustrasi. Perasaan bahagia setelah makan makanan manis ada kaitannya dengan cara kerja otak dan hormon tertentu. (iStock/monkeybusinessimages)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saat merasa sedih atau lelah, tak sedikit orang langsung mencari makanan atau minuman manis. Mulai dari cokelat, kue, kopi susu, hingga boba, semua terasa seperti penyelamat yang bisa mengembalikan mood dalam sekejap.
Sensasi ini sering dianggap sekadar kebiasaan atau bagian dari comfort food. Di balik rasa lega setelah makan manis, ada proses biologis yang memang terjadi di dalam tubuh, khususnya di otak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kaitan makanan manis dengan otak
Sejumlah studi menunjukkan, rasa manis secara alami mampu mengaktifkan sistem reward di otak, yakni bagian yang berkaitan dengan rasa senang, motivasi, hingga dorongan untuk mengulang suatu perilaku. Inilah yang membuat makanan manis terasa begitu memuaskan.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh saat kita mengonsumsi makanan manis, hingga bisa memengaruhi perasaan?
Menurut penelitian Sunil Kumar Sukumaran dan Salin Raj Palayyan dalam International Journal of Molecular Sciences (2022), rasa manis bukan sekadar sensasi di lidah, tetapi sinyal biologis penting bagi tubuh.
Manusia memang diprogram untuk menyukai rasa manis karena menandakan adanya sumber energi cepat, yaitu gula. Oleh karena itu, ketika lidah mendeteksi rasa manis, otak langsung memberi respons positif. Respons ini membuat kita cenderung:
• merasa senang
• ingin mengulang pengalaman tersebut
• dan mengaitkan makanan manis dengan rasa nyaman
Ini menandakan bahwa rasa manis memang dirancang untuk disukai oleh tubuh.
Gula memicu dopamin, hormon rasa senang
Efek bahagia setelah makan manis juga berkaitan dengan dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam sistem reward.
Studi oleh Molly McDougle dkk. yang dipublikasi di jurnal Cell Metabolism pada 2024 menemukan, gula dapat memicu pelepasan dopamin melalui jalur tertentu di otak.
Menariknya, sinyal ini tidak hanya berasal dari lidah, tetapi juga dari usus. Temuan ini menunjukkan, tubuh tidak hanya merasakan manis di mulut, tetapi juga mengenali gula sebagai sumber energi di dalam sistem pencernaan, lalu mengirim sinyal ke otak untuk memperkuat rasa senang, dan mendorong perilaku untuk mengonsumsi ulang.
Inilah yang membuat makanan manis sering terasa nagih. Ada peta rasa senang di otak manusia.
Studi juga menjelaskan, otak manusia memiliki pola aktivitas khusus saat merasakan kesenangan. Pola ini muncul ketika seseorang menikmati sesuatu yang menyenangkan, termasuk makanan dengan rasa enak seperti manis.
Saat kita makan makanan manis, area otak terkait pleasure aktif, sehingga sinyal "ini menyenangkan" makin kuat, dan pengalaman itu tersimpan sebagai sesuatu yang ingin diulang.
Ini menjelaskan mengapa makanan manis sering dikaitkan dengan mood booster, meski efeknya bisa bersifat sementara.
Secara alami memang membuat senang, tetapi konsumsi makanan manis yang berlebihan bisa berdampak sebaliknya. Karena sistem reward terus terstimulasi, tubuh bisa terbiasa dan membutuhkan lebih banyak gula untuk mendapatkan efek yang sama.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa berujung pada kebiasaan makan berlebih, peningkatan berat badan, hingga risiko penyakit seperti diabetes. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga keseimbangan.
(anm/rti)
Add
as a preferred source on Google


















































