Mengenal Borderline Personality Disorder Lebih Dekat

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 03:00 WIB

BPD adalah gangguan kepribadian yang memengaruhi emosi dan relasi. Kenali gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya. Ilustrasi. BPD merupakan gangguan kepribadian ambang yang cukup rentan. (Istockphoto/fizkes)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Penyakit mental dapat berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari penderitanya. Salah satunya adalah borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang.

Gangguan kepribadian ambang sendiri merupakan kondisi yang memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan orang lain. Dampaknya tak hanya dirasakan individu yang mengalaminya, tetapi juga orang-orang terdekat.

BPD membuat penderitanya kesulitan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka cenderung memiliki pemikiran dan keyakinan negatif tentang diri maupun orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di saat yang sama, gangguan ini juga memicu kesulitan dalam mengatur emosi dan impuls, sehingga hubungan sosial kerap menjadi tidak stabil.

Apa itu gangguan kepribadian ambang?

Borderline personality disorder adalah gangguan mental yang ditandai dengan pola emosi yang intens, hubungan yang tidak stabil, dan citra diri yang rapuh. Orang dengan BPD mudah merasa marah, tertekan, atau tersinggung oleh hal-hal yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain.

Akibatnya, karier, kehidupan keluarga, hingga relasi sosial bisa terganggu. Sebagian besar gejala muncul pada masa remaja atau dewasa muda.

Ketika emosi memuncak, penderita kerap sulit menenangkan diri dan berisiko melakukan tindakan membahayakan diri, termasuk penyalahgunaan zat dan percobaan bunuh diri.

Kabar baiknya, pada sebagian orang, gejala dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, diagnosis dan penanganan dini tetap krusial untuk mencegah risiko yang lebih serius.

Gejala BPD yang perlu diwaspadai

Secara klinis, gejala BPD bisa menyerupai gangguan kepribadian lain. Beberapa tanda yang umum ditemukan antara lain:

• Ketakutan berlebihan akan ditinggalkan orang lain

• Hubungan yang sangat intens tetapi tidak stabil, misalnya mengidolakan seseorang lalu tiba-tiba membencinya

• Rasa tidak yakin pada diri sendiri

• Perilaku impulsif atau berisiko, seperti belanja berlebihan, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, atau mengemudi sembarangan

• Perilaku menyakiti diri sendiri yang berulang

• Perubahan suasana hati yang cepat

• Mudah tersinggung dan sulit mengendalikan amarah

• Perasaan hampa

• Mudah stres, curiga, atau merasa kehilangan arah hidup

Gejala-gejala ini bisa muncul dalam intensitas berbeda pada tiap individu.

Apa penyebabnya?

Penyebab pasti BPD belum diketahui. Namun, National Institute of Mental Health menyebutkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, antara lain:

1. Faktor genetik

Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan BPD berisiko lebih tinggi mengalami gangguan serupa.

2. Struktur dan fungsi otak

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya perubahan pada struktur dan fungsi otak, terutama di area yang mengatur impuls dan emosi.

3. Faktor sosial dan lingkungan

Banyak penderita BPD melaporkan pengalaman traumatis, seperti kekerasan atau masa kecil yang penuh tekanan. Kemunculan BPD umumnya merupakan kombinasi dari berbagai faktor tersebut.

Bagaimana dokter mendiagnosis BPD?

Diagnosis BPD hanya dapat ditegakkan oleh psikolog atau psikiater. Tidak ada tes laboratorium khusus untuk memastikan gangguan ini. Dokter akan melakukan wawancara mendalam mengenai gejala, riwayat kesehatan, serta pengalaman hidup pasien.

Proses ini sering kali membutuhkan lebih dari satu sesi. Hal tersebut penting karena beberapa gejala BPD mirip dengan gangguan mental lain. Secara umum, diagnosis paling dini dapat ditegakkan setelah masa pubertas.

Cara mengatasi gangguan kepribadian ambang

Psikoterapi atau terapi bicara menjadi pendekatan utama dalam penanganan BPD. Terapi dapat dilakukan secara individu maupun kelompok.

Tujuan terapi meliputi:

• Mengurangi depresi, kecemasan, dan amarah

• Membantu menemukan makna hidup

• Membangun hubungan yang lebih sehat

• Meningkatkan pemahaman diri

• Mendukung kesehatan fisik secara menyeluruh

Beberapa bentuk terapi yang dinilai efektif antara lain terapi perilaku kognitif (CBT), terapi perilaku dialektis (DBT), dan psikoterapi psikodinamik.

Risiko komplikasi

Menurut National Library of Medicine, BPD dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

• Penyalahgunaan narkotik dan obat terlarang

• Perilaku berisiko tinggi

• Kehilangan pekerjaan

• Putus sekolah

• Masalah hukum

• Konflik hubungan

• Percobaan bunuh diri

Karena itu, penanganan yang tepat dan konsisten sangat diperlukan.

Bisakah BPD Dicegah?

Belum ada cara pasti untuk mencegah BPD. Gangguan ini sering kali memiliki faktor keturunan. Namun, keluarga dapat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental anggota yang rentan, misalnya dengan:

• Memvalidasi emosi

• Mendorong perilaku positif

• Memberikan dukungan secara konsisten

• Menunjukkan kehadiran dan kesabaran

Lingkungan yang suportif dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih baik. Penanganan dini sangat penting bagi penderita gangguan kepribadian ambang. Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala yang mengarah pada BPD, segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater.

Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Justru, langkah tersebut bisa menjadi awal untuk membangun kehidupan yang lebih stabil dan bermakna.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |