Menperin: Transformasi Elektrifikasi di RI Lebih Cepat dari Perkiraan

7 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Transformasi kendaraan elektrifikasi di Indonesia disebut berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan hal itu tercermin dari lonjakan penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang semester I 2026 yang meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Agus menjelaskan penjualan kendaraan elektrifikasi pada enam bulan pertama 2026 mencapai 117 ribu unit atau naik 69,4 persen secara tahunan. Jumlah tersebut setara 26,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang nasional.

Dari total itu, sekitar 69 ribu unit merupakan kendaraan listrik murni berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Transformasi menuju kendaraan rendah emisi berlangsung lebih cepat dari perkiraan banyak pihak," ucap Agus di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 ICE BSD, Jumat (31/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Artinya, hari ini satu dari setiap empat mobil penumpang yang dibeli masyarakat Indonesia sudah terelektrifikasi. Lima tahun lalu, angka itu nyaris tidak terbaca," kata Agus.

Meski demikian, Agus menegaskan pemerintah tidak memandang satu teknologi sebagai pesaing teknologi lainnya dalam upaya menekan emisi sektor transportasi.

Menurut dia kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hybrid, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, hingga pemanfaatan biodiesel dan bioetanol memiliki peran yang sama mendukung target penurunan emisi nasional.

"Pemerintah tidak menempatkan satu teknologi sebagai lawan dari teknologi yang lain. Kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hibrida, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, serta pemanfaatan biodiesel dan bioetanol, seluruhnya adalah jalan menuju tujuan yang sama, yaitu emisi yang lebih rendah dan ketahanan energi yang lebih kuat," ujarnya.

Ia menambahkan fokus pemerintah bukan menyeragamkan teknologi yang digunakan industri otomotif, melainkan mempercepat tercapainya tujuan tersebut.

"Yang kita percepat adalah tujuannya; bukan penyeragaman jalannya," kata Agus.

Lebih jauh, Agus menilai tantangan utama Indonesia bukan menentukan teknologi apa yang akan mendominasi pasar otomotif dalam satu dekade mendatang. Menurut dia, yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut diproduksi di dalam negeri.

"Sebab pertanyaan strategis bagi Indonesia sesungguhnya bukan teknologi mana yang akan memenangkan pasar sepuluh tahun lagi. Pertanyaannya adalah berapa besar bagian dari teknologi itu yang dibuat di Indonesia?" ucapnya.

Ia mengingatkan transisi menuju kendaraan rendah emisi harus diikuti dengan pendalaman industri domestik agar Indonesia tidak sekadar bergantung pada impor komponen maupun teknologi dari luar negeri.

"Transisi yang tidak disertai pendalaman industri hanya akan memindahkan ketergantungan kita dari satu bentuk impor kepada bentuk impor yang lain. Itu bukan transformasi. Itu hanya pergantian pemasok," tuturnya.

(ryh/fea)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |