CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 18:15 WIB
Ilustrasi minuman soda. (kaicho20/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Memilih minuman di atas pesawat sering kali menjadi ritual tersendiri bagi para pelancong. Ada yang setia dengan air mineral demi kesehatan, ada yang menyukai cita rasa gurih dari Bloody Mary, dan banyak pula yang menggemari minuman bersoda.
Namun, jika bicara tentang minuman terbaik di ketinggian 36.000 kaki, sains menunjukkan bahwa ginger ale (soda jahe) adalah pemenang mutlaknya.
Di darat, ginger ale mungkin terkesan sebagai minuman yang biasa saja, sering kali hanya dicari saat sedang sakit atau sekadar dijadikan campuran koktail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, begitu berada di dalam kabin pesawat, minuman berkarbonasi ini berubah menjadi opsi yang paling menyegarkan dan menguntungkan.
Mengapa ginger ale terasa jauh lebih nikmat saat terbang? Jawabannya terletak pada biologi tubuh manusia. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa indra pengecap dan penciuman manusia mengalami penurunan sensitivitas akibat udara kabin yang sangat kering serta tekanan udara yang tinggi.
Nutrisionis Lauren Grosskopf, MS, LDN, menjelaskan bahwa area yang paling terdampak oleh kondisi kabin adalah sensitivitas terhadap rasa manis dan asin.
"Tekanan kabin membuat rasa asin dan manis menjadi lebih hambar. Pada minuman seperti jus tomat atau Bloody Mary, rasa asinnya akan meredup dan menyisakan rasa manis-pedas yang segar," kata Grosskopf, seperti dilansir Travel and Leisure.
Sementara pada ginger ale, khususnya jenis dry ginger ale, melemahnya sensasi rasa manis justru membuat profil rasanya menjadi lebih tajam, ekstra kering, bersih, dan sangat menyegarkan di lidah," tambahnya.
Selain faktor rasa, ginger ale juga menyimpan manfaat medis dan psikologis bagi para penumpang yang sering merasa cemas saat terbang.
Secara historis, akar jahe telah lama digunakan sebagai ramuan herbal untuk mengatasi mual, gangguan pencernaan, hingga peradangan.
Meskipun beberapa merek komersial populer, seperti Canada Dry yang sempat tersandung gugatan hukum pada 2018 karena terbukti tidak menggunakan jahe asli, efek sugesti dari rasa menyerupai jahe tetap mampu memberikan efek menenangkan pada lambung yang bergejolak akibat turbulensi.
Manfaat ini akan jauh lebih optimal jika maskapai Anda menyajikan merek ginger ale yang mengandung ekstrak jahe asli.
Memesan soda jahe atau ginger ale rupanya juga menjadi bentuk "kebaikan tersembunyi" bagi para kru kabin. Menuangkan minuman bersoda pekat seperti Diet Coke di atas lapisan es batu pada ketinggian tinggi membutuhkan waktu yang jauh lebih lama karena sifat gelembungnya yang sulit pecah.
Sebaliknya, ginger ale dapat dituang dengan cepat tanpa menghasilkan busa berlebih, sehingga tidak menghambat jalannya proses pelayanan kereta makanan.
Pada akhirnya, selain didukung oleh alasan ilmiah dan medis, memesan kaleng ginger ale dingin di dalam pesawat memberikan kenyamanan emosional yang sulit dijelaskan.
Bagi sebagian besar pelancong, hal tersebut telah bertransformasi dari sekadar pilihan pelepas dahaga menjadi sebuah ritual wajib demi mendapatkan pengalaman terbang yang sempurna.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

















































