Naskah Stranger Things Diduga Pakai AI, Sutradara Film Buka Suara

3 hours ago 5

CNN Indonesia

Jumat, 16 Jan 2026 19:00 WIB

Kontroversi di musim terakhir Stranger Things terkait dugaan pemakaian AI untuk naskah. Sutradara film dokumenter di balik layar serial itu memberi kesaksian. Salah satu adegan di serial Stranger Things 5. (COURTESY OF NETFLIX)

Jakarta, CNN Indonesia --

Musim terakhir dari serial Stranger Things menimbulkan kontroversi terkait penggunaan akal imitasi (artificial intelligence/AI) dalam pembuatan naskahnya.

Mengutip dari Euro News, kontroversi itu muncul setelah film dokumenter yang ditayankan di platform Netflix dengan judul One Last Adventure: The Making of Stranger Things 5.

Gegara film dokumenter itu, fan Stranger Things menuding penulis kembar, Matt dan Ross Duffer, menggunakan aplikasi AI, ChatGPT, untuk menulis naskah musim final serial itu atau Stranger Thing 5.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kontroversi itu muncul karena dalam salah satu adegan di film dokumenternya, penonton yang jeli telah memperhatikan beberapa peramban (browser) yang terbuka di layar komputer penulis itu mencurigakan.

Dalam satu klip di film dokumenter itu, Duffer bersaudara terlihat menulis episode terakhir, "The Rightside Up" pada fitur Google Doc. Dan, penonton yang jeli melihat dugaan Duffer bersaudara menggunakan ChatGPT.

Perdebatan pun mencuat di media sosial disertai tangkapan layar film dokumenter yang memperlihatkan dugaan penggunaan AI itu.

Merespons hal tersebut, mengutip dari The Hollywood Reporter, sutradara film dokumenter tersebut, Marina Radwan pun buka suara.

Menurutnya dugaan penggunaan ChatGPT yang terlihat dari tab di layar monitor gawai Duffer bersaudara dalam film dokumenter itu tak bisa dibuktikan dengan pasti.

Tapi, Radwan mengatakan seandainya tab yang dibuka pada peramban pada gawai tersebut memang situs ChatGPT, bisa jadi hanya untuk riset cepat saja.

Menurutnya saat ini sudah lumrah apabila seseorang menggunakan AI, termasuk ChatGPT, untuk mencari informasi dalam kehidupan sehari-hari dengan cepat.

"Apakah kita bisa betul-betul yakin mereka membuka Chat GPT? Well, ada banyak omongan di mana [pengguna medsos] seperti, 'Kami benar-benar tak tahu sebenarnya, tapi kami hanya menduga-duga'. Tapi buat saya-ini seperti-bukankah semua orang membukanya (ChatGPT) untuk sebuah riset cepat? Saya juga [membukanya untuk itu]," kata Radwan dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter itu, dikutip Jumat (15/1).

Menurutnya bisa jadi tab yang terbuka itu situs ChatGPT, tetapi dia mencoba berbaik sangka bahwa AI itu digunakan bukan untuk menulis skrip melainkan untuk keperluan lain.

"Tak ada yang bisa membuktikan bahwa itu [ChatGPT] yang memang dibuka. Itu seperti iPhone kamu ada di sebelah komputer kamu saat menulis sebuah cerita. Kita hanya menggunakannya sebagai sebuah alat... sambil melakukan berbagai kegiatan. Jadi, selalu banyak hal yang dilakukan (dengan alat-alat itu), setiap saat," tutur Radwan.

Seraya membantah ada kegiatan tak etis dalam penulisan skrip, Radwan lalu berbagi pengalamannya saat mengambil gambar untuk pengambilan film dokumenter itu.

Menurutnya suasana ruang penulis skenario Stranger Thing 5 selalu dipenuhi obrolan-obrolan kreatif soal kemungkinan ke mana cerita musim final itu akan berakhir.

Radwan bersaksi bahwa di ruang itu Duffer bersaudara dan timnya bertukar pikiran membahas teori-teori liar yang muncul dari pikiran kreatif masing-masing soal serial tersebut.

"Saya menyaksikan sebuah pertukaran [ide] kreatif. Saya melihat sebuah diskusi. Orang mungkin mengira 'ruang penulis' berarti mereka hanya duduk dan menulis. Enggak seperti itu juga, itu adalah sebauh ruang pertukaran ide kreatif," kata Radwan.


Di sisi lain, para fan menilai penjelasan Radwan itu belum komprehensif. Mereka pun berharap Duffer bersaudara atau Netflix juga buka suara soal kontroversi AI itu.

Mengutip dari BBC Newsbeat, kontroversi yang muncul seiring berakhirnya serial Stranger Thing setelah 10 tahun membuktikan para penggemar mendambakan lebih banyak lagi dari produk science fiction itu.

Selain kontroversi AI, ada pula hipotesa yang berkembang di media sosial perihal episode tambahan-yang belum terbukti sejauh ini.

"Sulit untuk mengucapkan selamat tinggal [bagi para penggemar yang telah mengikuti perjalanan Stranger Things ini]," kata Radwan.

Dan, dia berharap film dokumenter berdurasi dua jam ini dapat memberikan penutup, sekaligus memberikan wawasan unik ke dalam ruang penulis dan proses produksi.

Radwan bilang film dokumenter karyanya itu menunjukkan bagaimana para pekerja kreatif, termasuk penulis naskah dan pemeran utama berkembang bersama serial Stranger Things tersebut.

Radwan bercerita Duffer bersaudara terinspirasi membuat proyek dokumenter itu setelah melihat di balik layar (behind the scenes) sebuah film dokumenter klasik, termasuk terkait saga The Lord of The Ring

Dalam kalimat penutupnya di akhir film dokumenter One Last Adventure, Ross Duffer mengatakan Stranger Thing 5 dibuat selama 237 hari, menggunakan 6.725 set, dan rekaman atau footage berdurasi total 630 jam. Semua itu kemudian disempurnakan menjadi sebuah produksi dengan durasi total 10 jam.

"Mereka tidak sukses dalam semalam, ini adalah proses pembuatan selama 40 tahun," kata Radwan.

"Mereka mulai membuat film panjang pada usia delapan tahun. Jadi, bagi saya, intinya adalah mereka benar-benar mewakili semua yang saya sukai tentang pembuatan film."

"Dan juga, mereka setia pada seni mereka, mereka setia pada visi mereka, yang sangat saya kagumi sebagai seorang sutradara," sambung perempuan keturunan Jerman-Suriah itu.

(kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |