Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan frustrasi usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belakangan semakin lembek ke Iran demi mencapai kesepakatan dengan negara tersebut.
Sejumlah sumber Israel mengatakan bahwa Netanyahu merasa diacuhkan Trump setelah dikesampingkan dari proses negosiasi AS-Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan CNN pada Jumat (29/5), mengungkap bahwa sejak AS-Iran gencatan senjata pada April, Netanyahu berulang kali meminta Trump untuk melanjutkan operasi militer dengan alasan serangan berkelanjutan masih bisa meruntuhkan rezim Teheran. Namun demikian, Gedung Putih tak acuh dan malah bergerak mendekat ke Iran.
Menurut para sumber, Netanyahu cemas bahwa kesepakatan AS-Iran nantinya bakal mengesampingkan kekhawatiran inti Israel, yakni soal uranium Iran serta program rudal dan proksi regional Teheran.
"Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan puas dengan kesepakatan yang buruk," kata salah satu pejabat Israel.
"Jika kesepakatan yang tercapai meliputi kepastian bahwa uranium Iran dihilangkan, kami bisa terima. Tapi jika itu cuma pernyataan niat, Iran bisa memainkan Amerika dan pada akhirnya tidak akan menyetop program uranium mereka," lanjutnya.
Iran berulang kali menegaskan bahwa stok uranium mereka tak menjadi bagian dari kesepakatan yang sedang dinegosiasikan dengan AS.
Trump sempat mengatakan pengayaan uranium Iran mesti disetop sepenuhnya dan diserahkan ke AS. Namun, baru-baru ini, Trump mengisyaratkan fleksibilitas.
Salah satu pejabat Israel terang-terangan mengatakan bahwa sikap Trump tersebut merupakan pengkhianatan terhadap Israel.
"Jadi begini rasanya dikhianati oleh Trump," kata pejabat yang ingin dirahasiakan identitasnya.
Menurut pejabat lainnya, jika Trump mengesampingkan Israel dengan bersikap lembek terhadap Iran, hal ini cuma akan memperburuk keadaan.
"Apabila blokade [AS terhadap pelabuhan Iran] dicabut, apalagi jika dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan, itu akan sangat buruk dan akan secara signifikan memperkuat rezim [Iran]," ucapnya.
"Alih-alih membawa Iran ke titik di mana mereka tidak bisa menggaji tentara dan polisi, kesepakatan tersebut justru bakal menyuntikkan Iran dengan uang dan mendanai pemulihan mereka," lanjut pejabat tersebut.
Kekhawatiran utama Israel salah satunya terletak pada Hizbullah, selaku sekutu utama Iran di Lebanon selatan. Selama bertahun-tahun, Iran menjadi pemasok senjata tetap bagi Hizbullah, yang konsisten menyerang pasukan dan wilayah Israel.
Dalam negosiasi kali ini, Iran dilaporkan mendesak agar gencatan senjata diterapkan di Lebanon.
AS pun belakangan berupaya menahan Israel agar tidak bertindak lebih jauh di Lebanon. Aksi ini memberi Hizbullah keleluasaan untuk mengintensifkan serangan drone ke Israel.
Para politikus sayap kanan sekutu Netanyahu telah mendesak sang PM menegaskan kepada Trump bahwa "Israel tidak bisa menolerir hal ini". Meski begitu, Netanyahu tak berdaya terhadap Trump.
Sikap Netanyahu ini didorong oleh kepentingan politiknya menjelang pemilihan umum yang sudah di depan mata. Netanyahu selama ini menggunakan hubungan karibnya dengan Trump sebagai modal politik.
Menurut para sumber, karena tak bisa menekan Trump, Netanyahu mengalihkan tekanannya terhadap tim negosiasi AS, yakni Jared Kushner dan Steve Witkoff.
Melalui media pro dirinya, Netanyahu menyerang Kushner dan Witkoff yang dianggap gagal menyoroti keamanan Israel.
"Kushner, Witkoff, dan Vance memilih dunia ekonomi dibandingkan dunia eksistensial," kata Yaakov Bardugo, pembawa acara televisi yang dekat dengan Netanyahu, di Channel 14.
"Dengan segala hormat terhadap kesepakatan yang mereka buat, kamilah yang tinggal di sini," tandasnya.
Menurut seseorang yang mengetahui diskusi AS-Israel, sikap Trump terhadap Netanyahu saat ini tak lain karena ia sadar bahwa tindakan gegabah sang PM "bisa menyebabkan perubahan rezim di Amerika Serikat".
Karenanya, Trump ingin menegaskan siapa yang memegang kendali di sini.
"Trump melihat bahwa narasi 'Bibi mengibas-ngibaskan anjingnya' ini merugikannya. Jadi dia menunjukkan bahwa dirinyalah yang mengambil keputusan," kata sumber tersebut.
Ucapan ini menjelaskan pernyataan Trump pekan lalu mengenai Netanyahu yang menurutnya akan nurut pada apapun yang dia katakan.
"Bibi orang baik. Dia akan melakukan apa yang saya katakan kepadanya," kata Trump saat itu.
(blq/dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































