Pakar Imunologi Sebut Vaksin Jadi Cara Utama Cegah Super Flu

16 hours ago 2

CNN Indonesia

Jumat, 09 Jan 2026 15:00 WIB

Pakar imunologi UNAIR dr Agung Dwi Wahyu Widodo mengatakan, vaksinasi dan diagnosis cepat jadi faktor penting untuk menghadapi fenomena super flu. Ilustrasi. Pakar imunologi UNAIR dr Agung Dwi Wahyu Widodo mengatakan, vaksinasi dan diagnosis cepat jadi faktor penting untuk menghadapi fenomena super flu. (istockphoto/Andrzej Rostek)

Surabaya, CNN Indonesia --

Pakar imunologi dan mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) Surabaya, dr Agung Dwi Wahyu Widodo menyebut, vaksinasi dan diagnosis cepat jadi faktor penting untuk menghadapi virus influenza A (H3N2) subclade K atau 'super flu'.

Ia mengatakan, dari sudut pandang mikrobiologi klinik, Influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi karena adanya protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Virus influenza khususnya tipe A sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan," kata Agung, Rabu (7/1).

Ia menyebut, meski gejalanya serupa dengan flu biasa seperti demam, batuk, dan nyeri otot, mutasi pada varian ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.

Dalam menghadapi lonjakan kasus influenza, Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat. Metode real-time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.

"Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini," tambahnya.

Salah satu poin krusial, kata Agung, ialah pentingnya vaksinasi influenza tahunan. Menurutnya, cara itu paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat super flu, mengingat sifat virus yang terus bermutasi.

Agung mengatakan, pembaruan vaksin secara rutin sangat diperlukan agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.

"Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun," ucapnya.

Selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap menjadi garda terdepan pencegahan.

ilustrasi fluIlustrasi. Gejala super flu bisa lebih parah dibandingkan flu biasa. (istockphoto/Domepitipat)

Dari sisi pengobatan, Agung menyebut pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih efektif bila diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.

"Masyarakat agar tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian baru. Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi dapat mencegah terjadinya wabah yang lebih luas di Indonesia," ucapnya.

Hingga saat ini, sebanyak 62 orang di Indonesia telah terpapar virus Influenza A (H3N2) subclade K atau super flu. Sebagian besar pasien mengalami demam sebagai gejala utama.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada. Menurutnya, super flu tidak seganas Covid-19.

"Yang penting buat teman-teman, jaga kesehatan, imunitasnya, istirahatnya cukup, sehingga kalau kena [super flu], sama seperti flu biasa, bisa kembali [sehat] lagi," ujar dia, beberapa waktu lalu.

(frd/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |