Pakar Sebut Modifikasi Cuaca Bukan Solusi Permanen Mengatasi Bencana

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan curah hujan sebagai upaya mitigasi dampak bencana memiliki batasan, karena baru bisa dilakukan dalam kondisi tertentu. Langkah ini juga tidak bisa dijadikan sebagai solusi permanen.

"Modifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi," ujar Sonni dalam sebuah keterangan, Rabu (4/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah wilayah Indonesia dilanda bencana hidrometeorologi dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari banjir hingga longsor imbas cuaca ekstrem yang terjadi.

Modifikasi menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menekan curah hujan yang menjadi pemicu bencana tersebut.

Namun, Sonni mengatakan solusi ini hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan.

Efektivitas modifikasi cuaca juga disebut sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu.

Pada kondisi cuaca yang banyak awan, kata Sonni, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat.

"Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan," jelasnya.

Menurutnya, meski kondisi cuaca mendukung, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas.

"Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana," terangnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau untuk tidak bergantung pada modifikasi cuaca secara berlebihan.

Pasalnya, hal tersebut berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan.

"Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya," katanya.

Sonni lantas mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik, berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat.

"Modifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar," pungkasnya.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |