PBB: Suhu Bumi Pecah Rekor 11 Tahun Terakhir, 2025 Terpanas

8 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan sangat serius pada Senin (23/3). PBB menyatakan jumlah panas yang terperangkap di Bumi mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2025.

Tak hanya itu, dampak dari pemanasan ini diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu singkat, melainkan akan terasa hingga ribuan tahun ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan tahunan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), seperti diberitakan AFP pada Senin (23/3), mengungkapkan fakta bahwa 11 tahun terpanas yang tercatat di Bumi semuanya terjadi dalam rentang waktu antara 2015 hingga 2025.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyikapi hasil laporan tersebut dengan menegaskan bahwa kondisi ini adalah tanda bahaya besar.

"Iklim dunia sedang dalam kondisi darurat. Planet Bumi sedang didorong melampaui batas kemampuannya. Semua indikator utama iklim menunjukkan tanda bahaya," ujar Guterres.

"Manusia baru saja melewati 11 tahun terpanas dalam sejarah. Jika sejarah terulang sampai 11 kali, itu bukan lagi kebetulan, melainkan panggilan untuk segera bertindak."

[Gambas:Video CNN]

Laporan tersebut juga menyoroti ketidakseimbangan energi antara energi matahari yang masuk ke Bumi dengan yang seharusnya dilepaskan kembali ke luar angkasa.

Polusi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana, dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 800.000 tahun, dan menyebabkan panas tersebut jadi terperangkap dan tidak bisa keluar.

Kepala WMO Celeste Saulo menjelaskan bahwa aktivitas manusia juga telah merusak keseimbangan alami ini. Akibatnya, lebih dari 91 persen kelebihan panas tersebut kini tersimpan di dalam lautan.

Suhu air laut pun mencapai rekor tertinggi pada 2025, yang memicu badai tropis lebih kuat dan mencairnya es di kutub dengan sangat cepat. Permukaan air laut global yang kini 11 sentimeter lebih tinggi dibandingkan 1993, hingga lapisan es di Antartika dan Greenland yang terus menyusut.

Meskipun ada fenomena alam La Nina yang biasanya mendinginkan suhu, 2025 tetap menjadi salah satu tahun terpanas dengan kenaikan 1,43 derajat Celsius dibanding masa sebelum revolusi industri.

John Kennedy, pakar dari WMO, memperingatkan bahwa suhu kemungkinan akan melonjak lebih tinggi lagi pada 2027 jika fenomena pemanas El Nino muncul kembali pada akhir 2026.

Menutup laporannya, Guterres menghubungkan krisis iklim ini dengan situasi dunia yang sedang dilanda perang dan kenaikan harga bahan bakar.

Ia menegaskan bahwa ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil telah merusak stabilitas iklim sekaligus keamanan dunia.

"Kekacauan iklim terus melaju cepat, dan menunda tindakan berarti mengundang maut," pungkasnya. Laporan ini menjadi pengingat keras bahwa tindakan nyata untuk mengurangi emisi tidak bisa lagi ditunda demi keselamatan generasi mendatang.

(chri)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |