Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih timnas putri Iran, Marziyeh Jafari, menegaskan pernyataan presenter televisi pemerintah mereka mengganggu psikologis pemain selama Piala Asia Wanita 2026.
Timnas Putri Iran menjadi sorotan setelah menolak menyanyikan lagu kebangsaan jelang kickoff pertandingan perdana melawan Korea Selatan.
Seluruh pemain dan staf melakukan aksi diam saat lagu kebangsaan mereka diputar di tengah situasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah tim melakukan aksi tak menyanyikan lagi kebangsaan, para pemain dicap sebagai 'pengkhianat masa perang' oleh presenter Penyiaran Iran, Mohammad Reza Shahbazi.
Timnas putri Iran beserta ofisial kemudian berubah sikap di laga-laga berikutnya. Mereka memilih menyanyikan lagu kebangsaan sambil hormat.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) kemudian mengunggah pernyataan Jafari lewat halaman Telegram mereka pada Jumat (13/3), yang kemudian dihapus.
Namun, Reuters sempat menyimpan pernyataan Jafari yang mengungkapkan psikologis para pemain terganggu karena pernyataan presenter media pemerintah Iran.
"Para pemain putri kami terpengaruh karena pertandingan pertama oleh suasana tegang yang telah tercipta," kata Jafari mengawali.
"Tetapi kesalahan yang lebih besar dilakukan oleh mereka yang berada di dalam negeri, gagal memahami suasana tersebut dan menyerukan perlawanan terhadap putri-putri negeri ini," kata Jafari merujuk pernyataan presenter tersebut.
Jafari menilai pernyataan presenter tersebut membuat para pemain cemas dan memilih untuk meminta suaka karena merasa terancam.
"Yang kami minta dari federasi adalah menindaklanjuti masalah ini karena hal tersebut memengaruhi para pemain kami secara psikologis, dan kami menanggung akibatnya."
"Saya yakin bahwa suasana seperti itu tidak akan terjadi dan tidak satu pun pemain kami akan tetap tinggal di Australia," tutur Jafari menyoal keputusan beberapa pemain putri Iran yang akhirnya meminta suaka di Australia.
Pekan ini, Australia memberikan visa kemanusiaan kepada lima pemain Iran yang mencari suaka selama turnamen berlangsung. Dua pemain lainnya juga diberikan suaka pada Rabu, namun satu orang lainnya memutuskan kembali ke Iran.
"Polisi Australia sempat memanggil para pemain beberapa kali dan duduk bersama mereka satu per satu untuk membujuk mereka tetap tinggal karena imbas suasana politik yang muncul."
"Untungnya, sebagian besar anggota tim menanggapi secara negatif. Bahkan Mohaddeseh Zolfi, yang telah menyetujui penawaran tersebut, segera berubah pikiran dan InsyaAllah, akan datang ke Iran bersama tim," beber Jafari.
Selain itu, Jafari juga membantah rumor terkait dua pemain mereka Golnoosh Khosravi dan Afsaneh Chatrenoor yang dikabarkan juga mendapat suaka.
"Rumor tentang Golnoosh Khosravi dan Afsaneh Chatrenoor juga sama sekali tidak benar, dan mereka sekarang bersama kami di Malaysia dan akan segera berangkat ke Iran," ujar Jafari.
(jun/jun/abs)
Add
as a preferred source on Google

















































