Peneliti ITS Kembangkan Benwit, Bensin Berbahan Dasar Sawit

10 hours ago 3

Surabaya, CNN Indonesia --

Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin berbahan dasar sawit. Produk penelitian yang mereka namai 'Benwit' ini disebut rendah emisi.

Inovasi yang diinisiasi oleh Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS ini muncul di tengah kondisi krisis BBM yang melanda dunia akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menyatakan, bensin sawit ini merupakan peluang besar bagi pemerintah untuk memangkas ketergantungan pada bahan bakar fosil.

"Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini," kata Bambang saat konferensi pers, Rabu (8/4).

Tim peneliti yang juga dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS Hosta Ardhyananta mengatakan pengembangan bensin sawit ini menggunakan metode catalytic cracking untuk memecah molekul crude palm oil (CPO) menjadi bahan bakar siap pakai.

"Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan," kata Hosta.

Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berperan sebagai gunting molekuler untuk memecah trigliserida dalam CPO menjadi fraksi hidrokarbon ringan.

Melalui pendekatan ini, konversi biogasoline dapat mencapai sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan lebih lanjut kemudian dilakukan dengan menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Kombinasi ini bekerja secara sinergis, di mana NiO berperan dalam memutus rantai karbon, sementara CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen.

Hasilnya, proses reaksi menjadi lebih efisien dengan penurunan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta peningkatan rendemen biogasoline hingga mencapai 83 persen.

Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial.

Hosta mengeklaim inovasi ini menerapkan prinsip zero emission. Residu cair yang dihasilkan tidak dibuang percuma, melainkan dapat dialihfungsikan.

"Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor," papar Hosta.

Saat ini, teknologi Benwit telah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian. Langkah ini diambil untuj memberikan proteksi bagi petani dari fluktuasi harga BBM dunia.

"Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif," ungkap Hosta.

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementerian ESDM agar inovasi ini masuk ke dalam skala proyek nasional.

"Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor," kata dia.

(frd/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |