Pertamina Buka-bukaan Stok Pertalite di DIY Usai Harga Pertamax Naik

5 hours ago 9

Sleman, CNN Indonesia --

PT Pertamina Patra Niaga buka-bukaan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di DIY usai penyesuaian harga pada BBM non-subsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green, mulai Rabu (10/6).

Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara harga Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17 ribu per liter.

Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Taufiq Kurniawan memaparkan data ketersediaan BBM di DIY untuk menjawab kemungkinan peralihan sebagian pengguna Pertamax ke Pertalite setelah penyesuaian harga diterapkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Taufiq, cadangan Pertalite yang tersedia saat ini setara dengan 12 kali konsumsi harian normal. Sementara itu, stok Solar berada pada level 20 kali kebutuhan harian, kemudianstok  Pertamax dan Pertamina Dex masing-masing mencapai sekitar 18 kali lipat dari konsumsi normal.

Terkait kemungkinan meningkatnya antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Pertamina akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pola konsumsi masyarakat.

"Kita evaluasi berkala pasca perubahan harga," kata Taufiq, Rabu (10/6).

Taufiq juga memastikan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan BBM di DIY. Menurutnya, stok baik di fasilitas penyimpanan maupun jaringan SPBU berada dalam kondisi aman.

"Stok aman sekali di (Fuel Terminal) Rewulu dan di SPBU," bebernya.

Berdasarkan data konsumsi BBM hingga Juni 2026 di wilayah Jawa Bagian Tengah, penggunaan BBM masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga.

Pada segmen gasoline, Pertalite menyumbang 73,3 persen dari total konsumsi, sedangkan Pertamax sebesar 25,9 persen. Adapun gabungan konsumsi Pertamax Turbo dan Pertamax Green hanya sekitar 0,9 persen.

Sementara pada segmen gasoil, Biosolar mendominasi dengan pangsa 96,6 persen. Konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex secara kumulatif tercatat sekitar 3,4 persen.

Data tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat masih mengandalkan BBM yang tidak terdampak kebijakan penyesuaian harga.

Adapun Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen. Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen.

Dengan komposisi tersebut, lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang harganya tetap, sehingga dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap masyarakat secara umum diperkirakan tidak terlalu signifikan.

"Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat," tutup Taufiq.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni dilakukan setelah proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.

Roberth juga menyampaikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi diputuskan usai berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan dengan mempertimbangkan harga minyak dunia.

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth.

Pertamina juga memastikan keamanan pasokan BBM di jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina di seluruh Indonesia.

[Gambas:Youtube]

(kum/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |