Presiden Iran Nilai Saat Ini Waktu Tepat Bikin Kesepakatan dengan AS

1 hour ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan saat ini merupakan waktu terbaik bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan dengan AS yang berlangsung di tengah konflik dengan Amerika Serikat.

Pezeshkian mengatakan Iran sangat kompak dan kuat setelah menghadapi perang. Ia menilai kondisi tersebut menjadi modal bagi Teheran untuk memasuki tahap baru melalui kesepakatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada kohesi, kekuatan, dan persatuan di negara ini. Sejauh yang saya ketahui, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam perang ini," ujar Pezeshkian kepada media Iran, seperti diberitakan Al Jazeera, Minggu (9/8).

Menurut Pezeshkian, Iran dan Amerika Serikat seharusnya sejak awal membentuk saluran komunikasi khusus untuk menangani pelanggaran gencatan senjata.

"Bagaimanapun, pelanggaran terjadi dalam setiap nota kesepahaman. Pada prinsipnya, seharusnya saat itu dibentuk sebuah tim untuk menangani pelanggaran, bukan untuk berperang," jelasnya.

"Kita perlu melihat bagaimana menyelesaikannya sekarang, jika solusi memungkinkan. Hal tersebut saat ini tengah dikerjakan dalam perundingan di Oman. Insyaallah, kita akan mencapai titik di mana kita bisa keluar dari kondisi 'tidak perang maupun damai' ini," katanya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan Washington berupaya memastikan sebanyak mungkin minyak dan gas kembali mengalir melalui Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan ketika Iran dan Oman mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembahasan mengenai mekanisme pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut.

"Kami ingin memaksimalkan jumlah minyak dan gas yang keluar dari Selat Hormuz," kata Vance kepada Fox News, seperti diberitakan CNN.

Vance mengatakan Selat Hormuz masih menjadi salah satu fokus utama pemerintahan AS. Jalur perairan tersebut secara efektif ditutup Iran sejak AS dan Israel memulai perang dengan Iran pada Februari.

Menurut Vance, Iran dan Oman tengah mengupayakan skema lalu lintas agar kapal-kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Namun ia menegaskan kesepakatan tersebut membutuhkan komitmen Iran untuk tidak menyerang kapal komersial yang melintas.

Sedikitnya satu kapal tanker minyak menjadi sasaran ketika berupaya melewati Selat Hormuz pada Sabtu (8/8). Uni Emirat Arab (UEA) menuding Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sementara itu, Teheran menyatakan kesepakatan dengan Oman sudah sangat dekat. Namun, Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada sejumlah persyaratan lain, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat.

Vance mengatakan Washington telah menggunakan berbagai instrumen untuk menekan Iran, mulai dari diplomasi, tekanan ekonomi hingga kekuatan militer.

"Sekarang, kami berupaya melihat apakah mereka mampu melakukan perubahan jangka panjang yang diperlukan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat," tegas Vance.

Ia juga berharap kesepakatan mengenai Selat Hormuz nantinya dapat membuat arus minyak dan gas kembali ke tingkat sebelum perang.

(lyd/end)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |