Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah negara menyampaikan sikap beragam usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz, jika tak ingin pembangkit listriknya diserang.
Pada Sabtu (21/3), Trump mendesak Teheran membuka jalur pelayaran vital tersebut dalam 48 jam jika tak mau pembangkit listriknya diserang.
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!" tulis Trump di media sosial Truth Social.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merespons ini, Inggris melalui Perdana Menteri Keir Starmer mendukung ultimatum Trump karena menilai Selat Hormuz sangat krusial untuk memastikan stabilitas pasar energi global.
"Mereka setuju bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk memastikan stabilitas di pasar energi global," kata seorang juru bicara Downing Street mengenai percakapan telepon Starmer dan Trump pada Minggu (22/3) malam, seperti dikutip BBC.
NATO juga menyuarakan sikap serupa bahwa aliansi pertahanan itu siap dan yakin bisa membantu AS membuka kembali selat yang telah ditutup Iran sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan kepada Fox News pada Minggu bahwa NATO telah bersatu dan menyusun rencana untuk secara kolektif membantu AS membuka kembali selat sempit nan vital tersebut.
"Sekutu dan mitra Eropa di seluruh dunia telah menggunakan beberapa pekan terakhir untuk memastikan bahwa kami bersatu. Mereka mulai merencanakan untuk melihat apa yang dapat kami lakukan secara kolektif sebagai sekutu, sebagai mitra Amerika Serikat," kata Rutte, seperti dikutip CNN.
China sementara itu memandang ultimatum Trump sebagai eskalasi serius. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian memperingatkan dalam jumpa pers pada Senin (23/3) bahwa serangan lanjutan di Timur Tengah berisiko menciptakan "kekacauan".
"Jika permusuhan terus meningkat dan situasi semakin memburuk, seluruh kawasan akan terjerumus ke dalam kekacauan," ucap Lin dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters.
"Penggunaan kekerasan hanya akan mengakibatkan terciptanya lingkaran setan," lanjut dia.
Dewan Pertahanan Iran telah menanggapi ancaman Trump dengan menyatakan satu-satunya cara negara "non-agresif" bisa melewati Selat Hormuz yaitu dengan berkoordinasi dengan Teheran.
Militer Iran sementara itu menyatakan siap menutup Selat Hormuz tanpa batas waktu dan menyerang infrastruktur di seluruh kawasan jika Trump mewujudkan ultimatumnya.
Namun usai ancaman tersebut, Trump pada Senin (23/3) menyatakan menunda pelaksanaan ancamannya atas Iran usai pembicaraan yang "sangat baik" dengan Teheran untuk mengakhiri perang di Timteng.
Trump pun menegaskan menunda ancaman serangan AS terhadap pembangkit listrik Iran. Dia menantikan langkah selanjutnya, sehingga memutuskan menunda pelaksanaan ancamannya selama lima hari ke depan.
Lewat unggahan di akun media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengklaim "percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah" dengan Iran itu telah digelar selama dua hari terakhir.
"Berdasarkan nada dan isi percakapan mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu, saya telah menginstruksikan departemen perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan syarat keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung," katanya dengan huruf kapital di halaman Truth Social miliknya seperti dikutip dari AFP.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google


















































