Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 06 Mar 2026 19:30 WIB
Review Hamnet: Film yang blak-blakan berbicara soal nestapa, diiringi dengan pengalaman sinematik yang magis. (Focus Features LLC./Agata Grzybowska via IMDb)
Review Hamnet: Film yang blak-blakan berbicara soal nestapa, diiringi dengan pengalaman sinematik yang magis.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hamnet (2025) garapan sutradara Chloé Zhao mencoba mengintip sisi lain yang jarang dibahas sejarah dari William Shakespeare, sang pujangga genius, yakni tragedi pribadi di balik nama besarnya.
Film berdasarkan novel Maggie O'Farrell ini bukan sekadar drama sejarah biasa, melainkan gambaran perjalanan emosional yang sangat menyentuh tentang kehilangan seorang anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berlatar 1596, film ini menceritakan hancurnya hati orang tua saat anak laki-laki mereka yang berusia 11 tahun, Hamnet, meninggal dunia. Kejadian itu yang nantinya menjadi cikal bakal lahirnya karya legendaris, Hamlet.
Zhao berhasil mengubah catatan sejarah yang kaku jadi cerita yang terasa nyata dan hidup. Penonton tidak akan menyaksikan Shakespeare sebagai sosok legenda, melainkan pria biasa yang terjebak antara ambisi karier dan keluarga.
Babak pertama film ini adalah rekonstruksi historis. Zhao menjembatani kesenjangan antara fakta-fakta dasar kehidupan Shakespeare dan realitas yang menggugah dan nyata.
Penonton diperkenalkan kepada "the Bard of Avon" bukan sebagai legenda, tetapi seorang anak dalam keluarga hingga pria yang alami kisah cinta terlarang dan penuh gairah dengan Agnes atau secara historis dikenal sebagai Anne Hathaway.
Film ini benar-benar mengambil waktu untuk mengupas evolusi hubungan mereka dari awal, menjadi sepasang kekasih yang penuh gairah hingga keluarga kecil dengan ketiga anak mereka.
Lapisan ini menciptakan dunia yang tampak kuno itu sekaligus sangat modern karena memperlakukan era Elizabeth bukan sebagai drama kostum, tetapi bisa merepresentasikan masa kini yang mendalam.
Meski judulnya berkaitan dengan sang penyair dan anak mereka, nyawa utama film ini ada pada sosok Agnes yang diperankan dengan luar biasa oleh Jessie Buckley.
Jika selama ini sejarah hanya menganggap istri Shakespeare sebagai tokoh sampingan, di sini ia adalah pusat segalanya. Penampilan Buckley sangat memukau, memberikan penampilan sangat emosional yang melampaui sekadar akting.
Baik saat dia terkoneksi dengan alam, meraung kesakitan selama persalinan yang sulit atau menanggung momen sunyi dan menghancurkan ketika melepas hembusan napas terakhir putra satu-satunya, komitmen Buckley sangat luar biasa.
Akting dan penampilannya sebagai Agnes dengan tepat menempatkannya sebagai kandidat terdepan pemenang Best Actress Piala Oscar 2026.
Salah satu kekuatan film ini juga terletak dari si pemeran Hamnet itu sendiri, Jacobi Jupe. Anak berusia 12 tahun itu tidak hanya menghafal naskah, tetapi seolah benar-benar memikul beban duka yang teramat berat di pundak kecilnya.
Kehadiran Jupe di layar memberikan nyawa bagi judul film ini. Akting dan monolog Jacobi Jupe sebagai Hamnet sukses membuat penonton tidak hanya merasa kasihan, tapi juga ikut merasakan kehilangan yang begitu nyata.
Review Hamnet: Akting Jessie Buckley sebagai Agnes menjadi inti sekaligus napas film ini. (Focus Features)
Review Hamnet: Jupe membuktikan bahwa kegeniusan akting tidak mengenal usia. Penampilannya adalah jembatan emosi yang sempurna. (Focus Features/Agata Grzybowska)
Salah satu kekuatan film ini adalah Zhao dan O'Farrell selaku penulis naskah mengangkat isu yang masih relevan sampai sekarang, yaitu sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Penonton diajak melihat bagaimana Agnes harus berkorban demi karier suaminya di kota besar, yang akhirnya memicu rasa bersalah dan kemarahan saat tragedi menimpa rumah mereka.
Kebencian dari dalam hati hingga kekecewaan Agnes akhirnya menyeruak dan tak lagi terbendung atas absennya Will secara fisik dan emosional dalam keluarga.
Koneksi ini memanusiakan tokoh sejarah, menanggalkan persona "The Great Poet" dalam sosok William Shakespeare untuk mengungkapkan seorang ayah yang berduka dan ibu yang ditinggalkan untuk menanggung beban kehilangan sendirian.
Meski berlatar sejarah, konflik tersebut tetap terasa sangat relevan bagi penonton abad ke-21.
Review Hamnet: Chloe Zhao kembali menampilkan sinematik yang penuh filosofi dalam rangkaian adegannya. (Focus Features LLC./Agata Grzybowska via IMDb)
Review Hamnet: Zhao menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai saluran untuk trauma. (Focus Features)
Secara visual, Chloé Zhao menggunakan gaya penyutradaraannya yang indah, tenang, dan penuh simbol. Bersama sinematografer Łukasz Żal, mereka merekam keindahan alam yang tampak samar namun memberikan kesan mendalam bagi perasaan penonton.
Pilihan estetika ini mengubah film menjadi pengalaman magis saat membenamkan penonton di pedesaan Stratford.
Saat narasi mencapai puncaknya, Zhao juga menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai sarana menyalurkan trauma.
Ketika Will akhirnya menulis karya besarnya tentang kematian, film tersebut menunjukkan bahwa kegeniusannya tidak muncul begitu saja secara ajaib, tetapi sesuatu yang lahir secara organik dari rasa sakit bersama keluarga.
Hamnet pada akhirnya menantang penonton untuk menghadapi kematian yang sering kali dihindari. Alih-alih memberikan akhir bahagia yang manis untuk menghibur karakter yang trauma, film-film ini justru memilih untuk jujur bahwa rasa sakit itu nyata dan hidup tidak selamanya mudah.
Zhao juga membuat karya pengingat bahwa di balik setiap mahakarya terkenal, ada harga manusiawi yang harus dibayar.
(chri)

















































