Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 20:00 WIB
Review The Housemaid: Film thriller yang menyenangkan meski beberapa adegan penting dari novelnya justru diubah atau bahkan dihilangkan. (Lionsgate/Daniel McFadden via IMDb)
Christie Stefanie
Review The Housemaid: Film thriller yang menyenangkan meski beberapa adegan penting dari novelnya justru diubah atau bahkan dihilangkan.
Jakarta, CNN Indonesia --
The Housemaid (2025) jadi hasil adaptasi novel yang bisa dinikmati pembaca karya original. Film thriller berdasarkan novel bertajuk serupa karya Freida McFadden itu tetap menyenangkan meski beberapa adegan mengalami perubahan.
Apresiasi perlu diberikan kepada tim casting dan para bintang yang berhasil menghidupkan serta memvisualisasikan adegan-adegan dalam best-selling novel itu ke layar lebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paul Feig jelas tampak bersenang-senang dalam mengarahkan The Housemaid berdasarkan naskah yang ditulis Rebecca Sonnenshine. Keduanya bersama tim belakang kamera tahu bagian mana saja yang ingin ditonjolkan saat mengadaptasi.
Psychological thriller dengan fokus utama pada perempuan jelas bukan hal baru bagi Feig. Ia sudah melakukan itu dalam A Simple Favor dan sekuelnya.
Sehingga, ia memahami persis tone-tone yang harus digunakan. Penonton dapat merasakan isyaratnya yang penuh arti melalui setiap adegan-adegan sarat makna, atau pergerakan kamera.
Melihat dari judul dan trailernya, The Housemaid mengingatkan dengan film-film lain yang bertajuk atau memiliki premise serupa: Keluarga yang tampak sempurna rusak ketika kehadiran ART baru.
The Housemaid menyajikan kisah lebih dari itu. Mereka yang familier dengan novel laris Freida McFadden akan tahu bagaimana kelanjutannya.
Namun, mereka yang tidak familier pun dapat menghubungkan titik-titik tersebut lebih cepat daripada yang diperkirakan. Penceritaan dan sinematografi film ini membantu penonton menyimpulkan situasi yang terjadi.
Feig dan penulis skenario Rebecca Sonnenshine cukup berhasil menjaga sebagian besar kejutan terbesar untuk tetap tersembunyi.
Hingga tiba saatnya, beberapa hal diungkap pada waktu yang tepat sehingga penonton mendapatkan pemahaman lebih baik tentang bagaimana para karakter berperilaku dan berpikir, sambil mempertahankan tempo yang terus-menerus meresahkan sepanjang film.
Sebagai film thriller, The Housemaid cukup standar dan menghibur. Untungnya, Amanda Seyfried secara substansial meningkatkan kualitas film ini.
Tim casting sukses menggaet Amanda Seyfried dan Brandon Sklenar untuk membuat Nina dan Andrew Winchester hidup di layar lebar.
Para pemeran melakukan pekerjaan yang kredibel dalam memerankan karakter-karakter yang putus asa, cacat, dan terkadang tidak waras.
Terutama penampilan Seyfried sebagai Nina benar-benar jauh lebih dalam dan luas daripada yang ditampilkan dalam trailer.
Review The Housemaid: Penampilan Amanda Seyfried sebagai Nina begitu gemilang dan bak tulang punggung film ini. (Lionsgate)
Seyfried sangat menikmati perannya dalam melakoni ketidakstabilan karakternya yang luar biasa, karakter yang licik dan manipulatif seperti harimau betina yang melindungi wilayahnya.
Ia begitu fantastis dalam memerankan karakter tersebut. Amanda Seyfried mencuri perhatian di setiap adegan yang ia mainkan.
Begitu pula dengan Brandon Sklenar dengan senyumnya yang begitu sempurna dan memikat, tapi manipulatif dan menyimpan trauma yang sesungguhnya menjadi akar permasalahan dari semua masalah dalam rumahnya.
Review The Housemaid: Brandon Sklenar mampu menghidupkan karakter suami yang begitu sempurna. (dok. Feigco Entertainment/Hidden Pictures/Lionsgate via IMDb)
Sementara itu, Sydney Sweeney melakukan pekerjaan cukup baik sebagai Millie. Ia memainkan perannya dengan baik sebagai perempuan yang polos namun cantik dan memiliki perkembangan karakter yang cukup.
Catatan yang dimiliki film ini adalah keputusan Sonnenshine sebagai penulis naskah mengubah beberapa bagian.
Perubahan yang bisa saya terima adalah cara penyiksaan yang dilakukan Andrew dan Millie. Sonnenshine mengganti proses menyiksa dengan hal baru yang lebih masuk akal saat menyaksikannya di bioskop.
Selain lebih masuk akal, proses penyiksaan itu pun lebih sadis dan dibangun dalam situasi yang lebih gelap dibandingkan dalam novel.
Namun, perubahan-perubahan lainnya saya sayangkan karena jadi mengurangi kesadisan dan kengerian dari The Housemaid.
Salah satunya adalah dalam membangun karakter Andrew. Sonnenshine seperti terlalu fokus dalam menggiring penonton kepada konflik dua karakter perempuan di sini, Nina dan Millie.
Sehingga, sifat abusive dan controlling Andrew yang sesungguhnya mengerikan, terutama terhadap Nina, Cece, dan Millie jadi terasa tidak begitu menyeramkan.
Begitu pula dengan peran Enzo (Michele Morrone) yang sebenarnya penting. Enzo dalam film hanya ditampilkan secuplik. Sehingga, ikatan yang kuat karakter itu dengan Nina, serta peringatannya terhadap Millie lalu begitu saja.
Review The Housemaid: Peran Enzo yang sebenarnya penting dalam novel dipotong begitu banyak dalam versi film. (dok. Feigco Entertainment/Hidden Pictures/Lionsgate via IMDb)
Satu hal utama yang benar-benar saya sayangkan karena tidak didalami adalah peran Evelyn Winchester atau ibu Andrew.
Dalam novel, ia menjadi karakter yang benar-benar bisa membuat bulu kuduk berdiri atau mulut menganga setiap kali dia mengomentari sesuatu. Dia mungkin karakter minor, tapi penyebab siklus kekerasan dalam keluarganya.
Sayangnya, karakter itu benar-benar hilang dalam Evelyn versi film. Komentarnya di akhir film pun tak semenyeramkan versi novel yang berhasil membuat pembaca merinding ketika membacanya.
Pada akhirnya, The Housemaid menjadi film thriller psikologis yang menghibur. Meskipun secara teori dan eksekusi terkesan tidak masuk akal, film ini mempertahankan nuansa gelap yang konsisten.
Perubahan-perubahan yang dilakukan mungkin menggelitik pembaca novel. Namun, The Housemaid menghadirkan kesenangan sambil menyajikan kisah menegangkan dan menghibur yang terjalin dalam kekonyolan sinematik yang tepat.
Film tersebut juga aman disaksikan pencinta film thriller yang tidak membaca novel originalnya. Penonton yang belum membaca novelnya sepertinya bisa memiliki pengalaman menonton lebih menyenangkan, terutama saat mengetahui plot twist-nya.
Terlebih dari semua itu, penampilan memukau Amanda Seyfried dalam film ini sudah lebih dari cukup jadi alasan untuk menyaksikan The Housemaid.
(chri/chri)

















































