Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rial Iran merosot tajam di tengah krisis ekonomi yang kian parah di negara itu.
Pada Rabu (14/1), US$1 setara 1,06 juta rial. Rial anjlok 2.437 persen dari posisi di awal 2025 saat US$1 setara 42 ribu rial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai tukar rial ini tak cuma lemah terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap rupiah. Per Rabu, Rp1 setara dengan 63,39 rial. Artinya, selembar pecahan Rp20 ribu sama dengan 1,3 juta rial Iran.
Kurs rial terhadap rupiah amblas 2.360 persen dibanding awal 2025 di level 2,5 rial per rupiah.
Rontoknya nilai tukar rial ini memperparah krisis ekonomi Iran, yang jadi penyebab demo besar-besaran di negara itu.
Karena mata uangnya terus melemah terhadap dolar AS, harga barang di dalam negeri ikut melonjak. Bahan makanan pokok seperti daging, beras, dan kebutuhan dapur lain mengalami kenaikan tajam.
Selain barang kebutuhan pokok, sektor energi seperti bahan bakar minyak (BBM) juga meroket.
Iran selama ini dikenal memiliki harga BBM yang sangat rendah karena subsidi besar pemerintah. Namun, tekanan anggaran akibat pelemahan rial memaksa pemerintah mengubah kebijakan harga BBM.
Menurut laporan Associated Press (AP), mulai Desember 2025, Iran menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat dengan kenaikan bertahap untuk mengurangi beban fiskal subsidi yang selama ini sangat besar.
Berdasarkan aturan baru ini, setiap pengendara tetap mendapat jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 rial per liter. Setelah kuota habis, mereka bisa beli 100 liter tambahan seharga 30 ribu rial per liter.
Namun, untuk konsumsi di atas 160 liter per bulan, harganya 50 ribu rial per liter.
Pemerintah Iran sebelumnya masih menerapkan dua lapis harga bensin, yakni 60 liter pertama per bulan dijual dengan tarif subsidi 15 ribu rial per liter. Kemudian, pembelian tambahan bisa dilakukan dengan harga 30 ribu rial per liter.
(blq/asr)

















































