Said Abdullah: Laporan MSCI Perlu Pembanding agar Lebih Berimbang

2 hours ago 29

Jakarta, CNN Indonesia --

Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir kembali memunculkan perdebatan mengenai dominasi lembaga pemeringkat global di pasar saham Indonesia.

Tekanan di bursa dipicu langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana mengeluarkan sejumlah emiten besar dari pemeringkatannya.

MSCI menyebut keputusan tersebut diambil lantaran adanya persoalan free float, likuiditas riil, serta transparansi pada sejumlah emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan ini langsung berdampak pada pergerakan pasar dan memicu volatilitas tajam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai, dinamika tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia belum sepenuhnya hilang.

Menurutnya, pembalikan arah pasar di tengah tekanan jual asing justru menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih melihat prospek bursa nasional secara positif.

Said menilai evaluasi yang dilakukan MSCI terhadap sejumlah emiten besar seharusnya dibaca sebagai koreksi yang bersifat konstruktif.

Karena itu, ia menegaskan agar otoritas bursa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pelaku pasar menangkap pesan tersebut sebagai masukan untuk memperkuat fondasi pasar modal.

"Para pihak ini harus berbenah dan membuka diri untuk menerima koreksi yang konstruktif dari siapa pun, terutama terkait pembenahan administrasi yang disarankan oleh MSCI," ujar Said dalam keterangannya, Minggu (1/2).

Meski demikian, Said mengingatkan agar penilaian MSCI tidak dijadikan satu-satunya rujukan tanpa ruang kritik dan pembanding. Ia menegaskan pentingnya kehadiran lembaga pemeringkat alternatif untuk melengkapi laporan MSCI, sehingga investor global memperoleh gambaran yang lebih berimbang tentang kondisi pasar modal Indonesia.

"Dalam dunia bisnis, praktik second opinion adalah hal yang wajar. Kita memerlukan itu agar investor mendapatkan kejernihan, dan advisory benar-benar menjadi rujukan untuk membangun pasar yang sehat, bukan bagian dari sindikasi aksi goreng saham," katanya.

Ia menjelaskan, dominasi lembaga tertentu dalam memberikan penilaian kerap membuat rekomendasinya diperlakukan seperti "fatwa" yang diikuti tanpa reserve. Padahal, menurut Said, pasar seharusnya bekerja secara rasional, matematis, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.

OJK telah menerbitkan sejumlah lembaga pemeringkat yang dianggap kredibel dan terpercaya, baik asing maupun domestik terkait kredit rating. Sebut saja ada, Fitch Ratings, Moodys, Standar and Poor, dan PT Kredit Rating Indonesia. Di Bursa, tidak banyak "pemain" pemeringkatan seperti MSCI, seperti halnya di sektor kredit.

Lebih lanjut, Said mengingatkan agar penilaian MSCI juga dibaca dalam konteks kondisi pasar saham Indonesia yang masih relatif dangkal. Saat ini, jumlah investor saham domestik baru sekitar 19 juta, jauh dibandingkan New York Stock Exchange yang melibatkan sekitar 162 juta investor di Amerika Serikat.

Menurutnya, rendahnya inklusi investor tersebut berkaitan erat dengan literasi pasar modal yang belum merata, termasuk dalam hal administrasi dasar sebagaimana disoroti MSCI. Hal ini, kata dia, seharusnya menjadi perhatian serius OJK dan otoritas bursa.

Di sisi lain, Said mengaku khawatir gejolak pasar yang dipicu penilaian MSCI justru berdampak besar bagi investor ritel, khususnya pemula. Volatilitas tajam berpotensi menggerus modal kecil dan menimbulkan trauma, yang pada akhirnya dapat menghambat upaya memperluas basis investor domestik.

Karena itu, ia menilai terlalu dini jika penilaian MSCI langsung dimaknai sebagai bukti pengendalian saham oleh segelintir pihak tanpa pembuktian yang konkret. Menurutnya, diperlukan fact finding yang jelas dan transparan sebelum menarik kesimpulan lebih jauh.

"Advisory untuk membangun market yang sehat, bukan bagian dari sindikasi aksi goreng saham.

Adapun pada Rabu (28/1), IHSG anjlok hingga 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa memberlakukan trading halt. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1), ketika IHSG sempat terperosok hingga minus 8,5 persen sebelum berangsur pulih dan ditutup melemah 1,76 persen.

Gejolak tersebut diikuti derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham. Dalam waktu singkat, dana asing tercatat keluar mencapai Rp6,12 triliun. Meski demikian, data sementara menunjukkan nilai aksi beli mulai melampaui aksi jual dengan surplus sekitar Rp6,1 triliun, sementara nilai kapitalisasi pasar justru tercatat lebih besar dibandingkan hari sebelumnya.

(inh)

Read Entire Article
| | | |