Jakarta, CNN Indonesia --
Buntu dalam negosiasi damai dengan Iran membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meradang. Blokade akses ke Selat Hormuz ditempuh saat Iran sang pemegang otoritas menutup jalur perdagangan di selat itu.
Dengan blokade, kapal-kapal Iran atau kapal negara lain yang diizinkan melintas di Selat Hormuz bisa diminta putar balik oleh armada tempur AS kembali ke Teluk Persia atau Teluk Oman di sebelah timur.
Dilansir dari Aljazeera, para pengamat menyatakan meski Iran terbiasa dengan sanksi AS, namun blokade ini bisa berakibat signifikan pada ekonomi Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seberapa besar dampaknya?
Pengaruhi perdagangan minyak Iran
Melalui pelabuhannya, komoditi utama Iran adalah minyak dan gas yang diangkut melalui Selat Hormuz. Pasokan minyak dunia 20 persen melalui selat ini.
Penutupan selat membuat harga minya melonjak karena minyak dari kawasan teluk harus melalui jalur ini. Iran menyeleksi ketat kapal-kapal yang boleh melintas.
Jika kapal-kapal asing tak bebas melintas, kapal-kapal Iran leluasa lewat untuk mengangkut minyak, gas dan komoditi lain untuk diekspor.
Ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 80 persen dari total ekspornya. Data sebuah perusahaan intelijen perdagangan, Kpler, Iran mengekspor minyak mentah sebanyak 1,84 juta barel per hari pada bulan Maret. Iran juga telah mengirimkan 1,71 juta barel per hari selama April. Selama 2025 rata-rata harian sebanyak 1,68 juta per hari.
Artinya ada peningkatan selama periode perang dalam dua bulan terakhir.
Dari tanggal 15 Maret hingga 14 April, Iran mengekspor 55,22 juta barel minyak. Harga per barel minyak Iran tidak pernah di bawah US$90 per barel. Bahkan pernah mencapai lebih dari US$100 per barel.
Dengan asumsi harga US$90 per barel saja, Iran akan meraup US$4,97 miliar dalam sebulan terakhir hanya dari minyak.
Padahal di awal Februari sebelum perang, Iran memperoleh sekitar US$115 juta per hari dari ekspor minyak mentah atau US$3,45 miliar dalam sebulan.
Artinya Iran telah memperoleh 40 persen lebih banyak dari ekspor minyak dalam sebulan terakhir dibanding sebelum perang.
Sekarang dengan blokade AS, para ahli memperkirakan kapasitas Teheran untuk mengekspor minyak mentah terdampak langsung.
"Iran tidak akan bisa mengekspor minyak, setidaknya dalam jumlah yang sama," kata profesor Institut Studi Pascasarjana Doha, Mohamad Elmasry, kepada Al Jazeera.
Belum lagi pendapatan dari pungutan melintas di selat tersebut.
Peneliti senior Middle East Council on Global Affairs Frederic Schneider sepakat. Menurutnya enam minggu dalam masa perang menjadi berkah bagi Iran karena meningkatnya pendapatan minyak. Blokade AS telah merusaknya.
Menurut badan intelijen maritim Windward, total minyak Iran di perairan ini sekitar 157,7 juta barel. Jumlah itu sebanyak 97,6 persen ditujukan untuk China.
Perdagangan komoditi lain
Selain minyak, blokade AS terhadap pelabuhan Iran juga dapat memengaruhi perdagangan komoditi lain.
Komoditi utama lain yang diekspor melalui Selat Hormuz adalah petrokimia, plastik, dan produk pertanian. Barahg-barang ini dikirim ke China hingga India.
Belum lagi barang-barang seperti mesin industri, elektronik, dan makanan, yang sebagian besar didatangkan dari ari China, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Laporan Teheran Times, 18 Februari 2026 lalu menyebut catatan Bea Cukai Iran menunjukkan total perdagangan non-minyak mencapai US$94 miliar dari 21 Maret 2025 hingga 20 Januari. Impor melebihi ekspor ini mengakibatkan defisit perdagangan.
Para analisis menyatakan blokade ini akan memengaruhi perdagangan Iran secara keseluruhan dan merugikan perekonomian.
Schneider mengatakan perdagangan non-hidrokarbon terganggu tidak hanya akan menjadi pukulan bagi pendapatan negara. Selain itu juga berpengaruh pada pasokan komiditi dalam negeri sehingga menyebabkan tekanan besar akibat sanksi pra-perang.
"Pertanyaannya adalah apakah meningkatnya tekanan ini akan memaksa Iran untuk mengakui kekalahan atau justru akan memperkeras tekad untuk melawan? Saya ragu blokade ini akan sepenuhnya efektif atau bertahan lama," kata Schneider .
Rute perdagangan alternatif
Untuk mengurangi ketergantungan pada selat seperti Selat Hormuz dari Teluk dan Selat Malaka di Asia Tenggara, Iran dan Tiongkok telah mengembangkan jalur kereta api.
Keduanya disebut memanfaatkan jalur kereta api yang sudah ada di negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Jalur ini dipakai pertama kali pada Februari 2016 untuk kereta barang yang membawa barang dagangan dari Tiongkok.
Kemudian pada bulan Mei, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan kereta barang pertama dari Xi'an, Tiongkok, tiba di pelabuhan darat Aprin di Iran. Hal ini menandai peluncuran resmi jalur kereta api langsung antara Iran dan Tiongkok.
Dari laporan dari lembaga konsultan geopolitik Special Eurasia, jalur kereta api Tiongkok-Iran membantu mengurangi risiko blokade laut seperti saat ini.
"Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengangkutan hidrokarbon melalui kereta api melibatkan tantangan logistik yang cukup besar," tambah laporan SpecialEurasia.
Saat ini tidak ada bukti yang bisa dipercaya bahwa minyak telah diangkut melalui kereta api dari Iran ke China.
Schneider mengatakan bahwa jika blokade berlanjut, itu pasti akan merugikan ekonomi Iran. Tetapi, ia menambahkan, juga tidak jelas berapa lama kebuntuan di Selat Hormuz akan berlangsung.
"Sangat sulit untuk mengatakan seberapa serius AS tentang blokade ini, berapa lama akan berlangsung, bagaimana akan berakhir dan apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya.
Schneider juga mengatakan karena sebagian besar tanker Iran menuju ke China, membuat Beijing tidak akan diam saja. Angkatan Laut AS juga sejauh ini seperti tidak berani menyita atau menenggelamkan kapal-kapal ini.
Ia menyebut situasi sekarang serba tak menentu. Bisa saja gencatan senjata yang disepakati dua pekan ini tidak akan berlanjut dan malah bakal berujung pada meningkatnya eskalasi perang.
"Jadi ini adalah situasi yang sangat tidak menentu yang akan dengan cepat bergeser ke satu arah, yaitu gencatan senjata dan detente, atau arah lain, yaitu peningkatan eskalasi dan dimulainya kembali pemboman dan serangan rudal," tambahnya.
Merespons blokade Selat Hormuz, Iran mengancam akan menutup akses menuju Laut Merah terutama di Selat Bab al Mandab di kawasan Yaman. Milisi Houthi di Yaman merupakan proksi Iran yang selama ini ikut membantu Iran dalam peran melawan Israel dan AS.
(tim/sur)
Add
as a preferred source on Google


















































