Selat Hormuz Topang Hidup Lebih dari 100 Juta Warga Negara Teluk

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan global, tetapi juga menjadi penopang kehidupan lebih dari 100 juta penduduk di kawasan Teluk Persia.

Ketika perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran menghambat jalur vital tersebut, pasokan pangan ke kawasan Teluk Persia juga ikut tertekan.

Sebagai kawasan dengan suhu musim panas bisa melebihi 50 derajat celcius dan keterbatasan lahan untuk bercocok tanam, negara-negara Teluk Persia mengandalkan sebagai besar kebutuhan pangan dari impor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara-negara Teluk Persia juga mengandalkan fasilitas desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air minum.

Arab Saudi mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan makanannya, Uni Emirat Arab (UEA) sekitar 90 persen, dan Qatar sekitar 98 persen. Di Irak, sebagian besar impor pangan juga melewati Selat Hormuz.

Dengan Selat Hormuz ditutup, perusahaan pengiriman makanan harus mencari rute alternatif yang lebih mahal dan rumit secara logistik.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga dan berkurangnya pilihan bagi konsumen di negara-negara Teluk Persia.

Iran sendiri masih bergantung pada Selat Hormuz untuk sebagian besar aktivitas perdagangannya.

Program Pangan Dunia (The World Food Programme/WFP) memperingatkan rantai pasok global berada di ambang gangguan paling parah sejak pandemi Covid-19 dan awal perang di Ukraina pada 2022.

Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau menyebut biaya pengiriman telah melonjak tajam.

Para pelaku ritel mengatakan, meski belum ada krisis kelaparan di kawasan Teluk Persia, konflik ini telah mengacaukan pengiriman via laut.

Kibsons International, peritel makanan segar berbasis di UEA yang mengimpor 50 ribu ton pangan per tahun dari negara seperti Afrika Selatan dan Australia, kini fokus mengalihkan jalur distribusi.

"Saat ini, rantai pasok sangat menantang," ujar Direktur Pengadaan Kibsons Daniel Cabral dikutip dari CNN pada Senin (23/3).

Menurut UK Maritime Trade Operations (UKMTO), hampir dua lusin kapal telah diserang di kawasan Teluk Persia sejak perang dimulai pada 28 Februari, termasuk kapal kargo di lepas pantai Oman.

Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran enggan melintasi Selat Hormuz.

Masalah lain adalah banyaknya kapal yang sudah berada di laut, kini tertahan. Padahal, kapal tersebut membawa sekian ton makanan, yang mana sebagian besarnya merupakan pangan segar.

Selain itu, biaya asuransi juga melonjak. Dalam kontrak pengiriman, terdapat klausul "perang" yang kini sudah berlaku.

Melalui klausul tersebut, kapal dapat menghindari memasuki wilayah berbahaya dan dapat menentukan pelabuhan tujuan alternatif.

Salah satu kontainer Kibsons yang semula menuju Pelabuhan Jebel Ali di Dubai kini dialihkan ke Mundra, India. Kontainer lain dikirim ke Colombo, Sri Lanka.

Namun, setelah tiba di darat, persoalan belum selesai. Pasalnya, muncul pertanyaan mengenai bagaimana pengelolaan pangan tersebut selanjutnya.

"Perusahaan pelayaran mengatakan, 'Apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya dengan kapal ini? Apakah Anda ingin menjualnya di India?' Atau, 'Apa rencana Anda selanjutnya dengan kapal ini?' Ini menempatkan kami dalam posisi yang sangat sulit," ujar Cabral.

Perusahaan pelayaran kini mengenakan biaya tambahan hingga 4 ribu dolar AS per kontainer untuk pengiriman ke Timur Tengah.

Di darat, biaya logistik bisa mencapai 4 ribu hingga 9 ribu dolar AS per kontainer untuk mengirim barang ke UEA.

Biaya pengiriman dari Eropa yang biasanya sekitar 3.000 euro melonjak menjadi 14.500 euro hanya untuk mencapai Jeddah, Arab Saudi. Dari sana, barang masih harus diangkut lagi dengan biaya tambahan.

Kenaikan biaya ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen. Kibsons memperkirakan harga beberapa produk seperti susu dan sayuran segar bisa naik hingga 20 persen.

"Kami hanya punya stok produk segar untuk sekitar satu bulan di gudang," kata Cabral.

Pengiriman udara yang biasanya menjadi alternatif juga terdampak. Bandara Internasional Dubai sempat ditutup total selama 48 jam akibat serangan balasan Iran pada 28 Februari. Penutupan ini mengganggu penumpang dan pengiriman kargo.

Pada Senin yang lalu, penerbangan kembali dihentikan sementara setelah terjadi kebakaran akibat serangan drone yang menghantam tangki bahan bakar.

Di sisi lain, perusahaan ritel lainnya, Spinneys, menyatakan keyakinan mereka dapat menjaga pasokan.

"Tidak mungkin kami akan kekurangan makanan," kata Kepala Rantai Pasok Spinneys, Louis Botha.

Perusahaan ini mulai menjajaki jalur darat, mengirim kontainer dari Inggris melalui Prancis dan Turki sebelum menuju Irak, Arab Saudi, dan UEA.

Pengiriman darat bisa memakan waktu sekitar 12 hari, atau sekitar 72 jam jika tanpa henti, dan dinilai 40 persen lebih murah dibandingkan pengiriman udara.

Namun, dampak gangguan ini tetap dirasakan konsumen dalam bentuk harga lebih tinggi dan pilihan yang lebih terbatas.

Pemerintah negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) berupaya mengurangi hambatan dengan membuka koridor perdagangan baru.

Oman dan UEA memperkenalkan koridor perdagangan baru, yang diharapkan dapat mempercepat proses antara pelabuhan-pelabuhan seperti Muscat dan Jebel Ali.

Menurut Pemimpin Redaksi Lloyd's List Intelligence, Richard Meade, asuransi sebenarnya masih bisa digunakan untuk urusan ini, tetapi hanya jika perusahaan rela membayar lebih mahal.

Ia percaya membayar lebih bukanlah permasalahan utama bagi perusahaan. "Ini adalah masalah keamanan yang perlu ditangani," kata Richard Meade kepada CNN.

Ia juga meragukan pengawalan militer dapat segera dilakukan. Kalaupun ada, prioritas kemungkinan diberikan kepada kapal tanker minyak, bukan kapal kargo yang mengangkat bahan pangan.

Meade memperkirakan perlu delapan hingga 10 kapal perusak untuk mengawal lima hingga 10 kapal tanker per hari. Padahal sebelum krisis, 60 tanker dapat melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Artinya, meski operasi militer berhasil dilakukan, distribusi barang penting seperti makanan tetap akan menghadapi tantangan.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |