Jakarta, CNN Indonesia --
Pemilik usaha warung tegal (warteg) harus memutar otak untuk menyiasati kenaikan harga sejumlah bahan pangan, mulai dari cabai, daging ayam, hingga daging sapi.
Berbagai strategi dilakukan demi bisa bertahan tanpa menaikkan harga secara signifikan dan menggerus cuan harian.
Dewi, seorang penjual warteg di Jatiasih, Bekasi, mengaku saat harga bahan pokok tertentu naik ia memilih untuk mengurangi porsi ke pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, saat harga cabai naik di periode Nataru, ia mengurangi penggunaan bahan tersebut dibandingkan harus menaikkan harga.
"Kayak sambal tuh ya paling kita kasihnya agak dikurangin dikit biar bisa tetap untung lah," ungkap Dewi kepada CNNIndonesia.com saat ditemui, Selasa (6/1) lalu.
Namun, ketika harga ayam potong naik, ia merasa lebih baik menaikkan harga sedikit, yakni sebesar Rp1.000 untuk setiap potongnya.
"Kalau ayam pas naik kemarin, ya mau enggak mau naikin harga seribu toh ya semoga pembeli bisa paham," ceritanya.
Hal senada juga dirasakan oleh Fitri seorang penjual warteg lainnya yang mengaku mengurangi bahan yang dipakai ketika memasak.
"Paling kalau kayak lauk balado-baladoan tuh kan pakai cabai. Nah itu jumlah cabai yang dipakai saat memasak dikurangi," ujar Fitri saat ditemui secara terpisah.
Kendati demikian, ia menyampaikan tidak mengurangi jumlah porsi yang diberikan kepada pelanggan.
"Kalau dari segi porsi kita gak kurangin, ya namanya harga pangan biasa naik turun, beginilah tantangan berjualan," tambahnya.
(fln/sfr)

















































