Jakarta, CNN Indonesia --
Rencana pengadaan kendaraan niaga berstatus CBU asal India untuk kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menuai sorotan dari sisi teknis. Model pikap yang diimpor diyakini menggunakan standar emisi setara Euro 6 yang menimbulkan pertanyaan bakal menggunakan bahan bakar jenis apa di Indonesia.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menyatakan ada potensi persoalan operasional jika spesifikasi mesin tidak disesuaikan dengan kondisi bahan bakar domestik.
"Dari sisi spesifikasi kendaraan, jika tidak ada penyesuaian mesin dan parts-nya, pengadaan ini bakal jadi bom waktu operasional," kata Yannes melansir Antara, Rabu (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yannes, kendaraan produksi India umumnya sudah mengadopsi standar emisi BS-VI (Bharat Stage 6), atau setara Euro VI. Standar ini menuntut mesin lebih presisi, tapi sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dari itu masalah bisa muncul ketika spesifikasi mesin tak mendapat asupan bahan bakar sesuai.
Bharat Stage 6 telah menjadi mandatori buat semua kendaraan diesel di India sejak 1 April 2020. Batas emisi ini memerlukan bahan bakar rendah sulur yaitu maksimal 10 ppm dengan cetane number minimal 51.
Sementara di Indonesia, pemerintah menerapkan standar emisi kendaraan diesel menjadi setara Euro 4, dari sebelumnya Euro 2, pada April 2022. Ketentuan bahan bakar diesel minimal untuk Euro 4 di Indonesia adalah maksimal 50 ppm dan cetane number minimal 51.
Bahan bakar diesel populer di Indonesia, Biosolar B40, memiliki spesifikasi kandungan sulfur maksimal 50 ppm dan cetane number minimal 51. Sejauh ini belum ada bahan bakar diesel Euro 6 untuk yang beredar di Indonesia.
Salah satu model yang akan diimpor dari India adalah Mahindra Scorpio Pikap, yang menggendong mesin berjenis legendary 4-cylinder, turbo diesel 22. ltr mHawk. Mesin ini dapat melepas 140HP dan torsi sebesar 320 Nm
"Karena setahu saya, mesin India itu memiliki spesifikasi Euro 6 yang sangat presisi dan butuh solar murni, sehingga berpotensi tidak kompatibel dengan Biodiesel B40 Indonesia yang tinggi air dan asam lemak," kata dia.
Kalaupun harus menggunakan kendaraan-kendaraan asal dari India, dia menyarankan menghadirkan modifikasi sektor mesin, agar bisa kompatibel dengan bahan bakar diesel di Indonesia.
Penyediaan suku cadang juga nantinya bakal menjadi problematik tersendiri. Hal itu karena merek kendaraan komersial ini tak memiliki layanan pasca penjualan di seluruh cakupan wilayah Koperasi Merah Putih.
"Jika situasi ini benar-benar terjadi, maka efisiensi harga beli (CAPEX) yang dibanggakan Agrinas akan habis tertelan oleh tingginya biaya perawatan (OPEX) dan lumpuhnya distribusi pangan nasional," tutur dia.
BUMN Agrinas Pangan Nusantara telah melakukan pengadaan 105 ribu unit kendaraan komersial dengan cara impor utuh dari India bakal kebutuhan proyek Koperasi Merah Putih. Pembelian melibatkan dua merek otomotif ternama asal India yaitu Mahindra & Mahindra (Mahindra) dan Tata Motors.
Nilai pengadaan ini mencapai Rp24,66 triliun untuk 35 ribu pikap 4x4 Mahindra Scorpio serta 35.000 pikap 4x4 Yodha dan 35 ribu unit truk roda enam Ultra T.7 dari Tata. Kini, 200 unit pikap impor telah tiba di Indonesia.
(ryh/fea)


















































