Timteng Perang, Bulog Tunggu Restu BIN Cs soal Ekspor Beras ke Saudi

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perum Bulog masih menunggu asesmen dari sejumlah lembaga pemerintah terkait rencana ekspor beras ke Arab Saudi, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan telah mengajukan permintaan penilaian keamanan kepada Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sebelum pengiriman dilakukan.

Rizal mengatakan pemerintah pada dasarnya telah menyiapkan seluruh kebutuhan teknis untuk pengiriman beras bagi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Namun, jadwal keberangkatan tetap mempertimbangkan situasi geopolitik di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sesuai jadwal, rencananya pemberangkatan tanggal 7 (Maret). Tapi kita mengikuti dinamika perkembangan geopolitik yang ada di sana. Kami juga sudah bersurat ke BAIS TNI, ke BIN, kemudian ke Kemenlu untuk meminta asesmen terkait pemberangkatan beras haji Indonesia ini," kata Rizal di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Jakarta Utara, Rabu (4/3).

Ia menjelaskan pemerintah tetap mendorong agar ekspor dapat berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, keputusan akhir terkait waktu pengiriman akan mempertimbangkan rekomendasi dari tiga institusi tersebut.

"Untuk proses kelanjutannya kita mengikuti perkembangan dinamika di lapangan. Jadi kita menunggu informasi lebih lanjut dari asesmen dari tiga institusi tersebut," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan pengiriman beras tersebut tetap direncanakan menuju Pelabuhan Jeddah, Arab Saudi. Ia menilai ekspor masih memungkinkan dilakukan meski terdapat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Insya Allah aman sampai di Jeddah. Kita masuk pada saat (selatnya) buka," kata Amran.

Pemerintah menyiapkan ekspor beras sebanyak 2.280 ton untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi tahun ini. Program tersebut merupakan bagian dari keputusan rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 23 Februari 2026 silam.

Rizal menjelaskan beras yang diekspor merupakan beras premium yang diproduksi dari panen baru di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Proses pengolahan dilakukan di empat fasilitas, yakni pabrik Wilmar di Serang dan Mojokerto, pabrik Bulog di Karawang, serta fasilitas pengolahan di Subang.

Beras tersebut diolah dengan standar premium dengan tingkat patahan di bawah 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen. Menurut Bulog, kualitas tersebut lebih tinggi dibandingkan beras premium yang biasa diproduksi sebelumnya.

Total nilai transaksi ekspor tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp38 miliar. Pengiriman direncanakan menggunakan tiga perusahaan pelayaran, yakni Hyundai, Wan Hai, dan kapal lokal.

Selain memenuhi kebutuhan jemaah haji Indonesia, Bulog menilai ekspor ini juga menjadi langkah promosi untuk memperluas pasar beras Indonesia di Arab Saudi. Negara tersebut dinilai memiliki potensi permintaan besar, terutama dari jemaah umrah dan warga Indonesia yang menetap di sana.

Namun, rencana ekspor tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup jalur pelayaran Selat Hormuz setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dan gas dunia yang terletak di antara Iran, Uni Emirat Arab, dan Oman. Penutupan jalur tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan perdagangan global, termasuk distribusi energi dan logistik di kawasan Timur Tengah.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)

Read Entire Article
| | | |