Tragedi Kereta Bekasi Timur, Railvolution dan Strategi 'SDG'

6 hours ago 5

Bambang Susantono

Guru Besar UNDIP, Pendiri Intelligent Transportation System Indonesia

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi

CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar satu dekade lalu, kita menyaksikan perubahan mendasar dalam dunia perkeretaapian di Indonesia. Praktik penumpang di atap kereta api sudah tidak lagi terlihat, angka kecelakaan mengalami penurunan signifikan seiring pembangunan jalur ganda dan dwi ganda, serta penerapan sistem persinyalan elektrik. Modernisasi sistem tiket dan berbagai inovasi lainnya turut memperkuat transformasi tersebut. Dalam buku Revolusi Transportasi (2014), saya menyebut fenomena ini sebagai "Railvolution", sebuah fase penting dalam kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Peristiwa kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi transportasi, masih ada pekerjaan rumah yang sifatnya mendesak. Kejadian ini menunjukkan bahwa sistem yang semakin modern tetap memerlukan evaluasi berkelanjutan, terutama dalam memastikan integrasi dan keandalan seluruh komponennya.

Pengalaman global menunjukkan bahwa kecelakaan kereta api umumnya bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa aspek. Faktor manusia sering kali menjadi kontributor utama, termasuk dalam hal kepatuhan terhadap prosedur, tingkat kelelahan, serta konsistensi dalam pengambilan keputusan operasional. Di sisi lain, faktor eksternal seperti perlintasan sebidang dan interaksi dengan masyarakat juga menjadi tantangan yang tidak sederhana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, aspek infrastruktur dan sarana juga memerlukan perhatian berkelanjutan. Kondisi rel, sistem kelistrikan, serta kesiapan armada harus selalu berada dalam standar optimal melalui pemeliharaan yang konsisten dan berbasis data. Hal ini penting untuk memastikan bahwa peningkatan kapasitas diikuti oleh peningkatan keandalan sistem.

Berbagai negara telah mengembangkan pendekatan yang berbeda dalam meningkatkan keselamatan. Jepang, misalnya, menekankan pada teknologi presisi dan sistem fail-safe berbasis kecerdasan buatan (AI). Pada jalur commuter (Yamanote Line), Jepang mengintegrasikan kamera dan kecerdasan buatan untuk memantau pantograf secara real-time. Langkah tersebut dapat memangkas waktu deteksi masalah secara tepat dan akurat. Selain itu, Jepang juga menggunakan armada drone untuk melakukan inspeksi jalur agar lebih cepat dan akurat.

Sementara itu, India lebih pragmatis dan fokus pada pengelolaan interaksi antara manusia dan jalur kereta melalui pemagaran serta pembangunan fasilitas penyeberangan yang lebih aman. Pemisahan fisik dan perilaku manusia menjadi fokus pendekatan keselamatan utama. Fenomena trespassing menjadi ancaman terbesar yang dihadapi.

India melakukan kampanye pemagaran nasional secara masif dengan panjang lebih dari 16.000 km. Upaya tersebut juga dikombinasikan dengan pembangunan jalur penyeberangan bawah tanah agar lebih ramah pejalan kaki. Strategi unik lainnya yang diambil adalah dengan mengoleskan pelumas industri (grease) pada pagar untuk mencegah masyarakat yang ingin memanjat.

Kedua pendekatan di dua negara yang berbeda ini menunjukkan bahwa solusi keselamatan perlu disesuaikan dengan karakteristik sosial budaya masyarakat dengan pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis kecerdasan buatan yang tetap humanis.

Dalam konteks Indonesia, penting untuk melihat sistem perkeretaapian secara menyeluruh melalui tiga dimensi utama: hardware, software, dan brainware. Pada aspek hardware, diperlukan jaminan bahwa infrastruktur fisik dan sistem pendukungnya telah memenuhi standar keselamatan yang tinggi. Pada aspek software, integrasi sistem pengendalian, pemantauan real-time, serta kemampuan deteksi dini menjadi sangat krusial. Sementara itu, pada aspek brainware, penguatan kompetensi, disiplin, dan budaya keselamatan di seluruh lini organisasi menjadi fondasi utama.

Ketiga aspek tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, pendekatan yang integratif dan sistemik menjadi kunci dalam memperkuat sistem secara keseluruhan. Upaya yang telah dilakukan selama ini merupakan langkah penting, dan ke depan perlu terus disempurnakan agar mampu menjawab tantangan yang semakin kompleks.

Rencana pemerintah untuk memperluas jaringan kereta api ke berbagai pulau di luar Jawa merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Pengembangan transportasi berbasis rel memiliki potensi besar dalam mendukung efisiensi logistik nasional serta memperkuat konektivitas antarmoda. Integrasi antara transportasi jalan, kereta api, laut, dan udara menjadi agenda penting dalam mewujudkan sistem transportasi antar moda yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Karenanya dalam hal tata kelola (governance) perlu pembagian tugas secara jelas dan tegas terkait tugas dan tanggung jawab antara regulator dan operator. PT Kereta Api Indonesia sebagai operator utama diharapkan dapat terus melanjutkan transformasi menuju perusahaan berbasis teknologi cerdas yang humanis. Penguatan digitalisasi, pemanfaatan data, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia akan menjadi faktor penentu keberhasilan ke depan.

Di sisi lain, peran Kementerian Perhubungan sebagai regulator sangat strategis. Penguatan standar keselamatan, peningkatan kualitas pengawasan berbasis teknis, serta koordinasi lintas sektor dengan kementerian dan pemerintah daerah menjadi bagian penting. Ini merupakan elemen utama untuk memastikan keselamatan dan keandalan sistem secara menyeluruh, termasuk dalam penghapusan perlintasan sebidang.

Ke depan, Railvolution dapat dimaknai sebagai proses berkelanjutan yang memerlukan peta jalan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Pendekatan yang mengedepankan strategi "SDG", Sustainable, Digitalize, dan Governance, menjadi relevan dalam konteks saat ini dan untuk menjawab tantangan di masa depan.

Penguatan teknologi yang humanis, tata kelola yang baik, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem perkeretaapian Indonesia yang semakin andal, aman, dan efisien.

(sur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |