Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut berencana memulangkan migran Iran dari Amerika Serikat di tengah demo berdarah yang memprotes kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Organisasi non-pemerintah Dewan Nasional Iran-Amerika (NIAC) menyatakan telah mengetahui pemerintahan Trump berencana untuk memulai kembali penerbangan deportasi ke Iran.
"Pemerintahan yang sama yang menjanjikan kepada warga Iran bahwa 'bantuan sedang dalam perjalanan' di tengah penindakan mematikan kini secara paksa mengirim warga Iran kembali ke dalam bahaya," kata presiden NIAC, Jamal Abdi, pada Jumat (23/1), dikutip AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada September dan Desember, NIAC juga melaporkan pemerintahan Trump melakukan deportasi terhadap warga Iran di Negeri Paman Sam.
Senada, Diplomat yang mewakili kepentingan Teheran di Amerika Serikat, Abolfazl Mehrabadi, mengatakan sekitar 40 warga Iran akan dideportasi.
Mehrabadi menjelaskan para WN Iran itu akan berangkat pada hari Minggu dari bandara di Phoenix, Arizona.
Organisasi advokasi imigran, American Immigration Council, menyatakan di antara mereka terdapat dua laki-laki gay yang menghadapi hukuman mati di Iran.
Kedua orang itu saat ini ditahan di pusat penahanan imigrasi di Arizona, dan proses hukum untuk mencegah deportasi mereka masih berlangsung.
Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah AS terkait rencana deportasi warga Iran. Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS juga tak segera menanggapi saat dihubungi AFP.
Jika betul-betul terjadi, penerbangan deportasi tersebut akan jadi yang pertama ke Iran sejak pemberontakan massal membara di negara itu.
Terkait demo, Trump telah berulang kali mengancam akan melancarkan serangan militer ke Iran sebagai tanggapan atas dugaan tindak kekerasan pemerintah Khamenei.
Protes besar-besaran tersebut telah menyebabkan ribuan orang meninggal dan puluhan fasilitas sipil rusak. Khamenei meyakini demo yang mulanya damai itu disusupi agen Israel dan AS hingga menyebabkan kerusuhan.
Khamenei sempat mengatakan tak akan menoleransi apapun terhadap pedemo yang merusak fasilitas. Sepanjang aksi berlangsung, ribuan orang juga ditangkap. Mereka menghadapi persidangan, dan beberapa di antaranya divonis mati.
Namun, setelah Trump berulangkali mengancam, Iran dilaporkan menangguhkan eksekusi yang direncanakan. Rencana operasi militer AS itu juga tampaknya tak terlaksana.
(isa/mik)

















































