Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menjadwalkan ulang kunjungannya ke China dalam waktu sekitar lima hingga enam pekan ke depan, setelah sebelumnya menunda agenda tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (17/3). Ia menegaskan bahwa hubungan kerja antara Amerika Serikat dan China tetap berjalan baik, meski jadwal kunjungan mengalami perubahan.
"Kami memiliki hubungan kerja yang sangat baik dengan China, jadi kami menjadwalkannya dalam sekitar lima atau enam minggu," ujar Trump, mengutip CNA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump juga berupaya meredam spekulasi soal penundaan tersebut. Ia menekankan bahwa relasinya dengan Presiden China Xi Jinping tetap kuat dan saling menantikan pertemuan.
"Kami bekerja sama dengan China. Mereka tidak masalah dengan penundaan ini. Saya menantikan bertemu Presiden Xi, saya pikir dia juga menantikan bertemu saya," katanya.
Menurut Trump, hubungan ekonomi antara kedua negara kini menunjukkan perkembangan positif bagi Amerika Serikat. Ia bahkan menyebut China "sangat baik secara ekonomi" bagi negaranya, menandai perubahan dibandingkan sikap sebelumnya.
Sebelum kembali menjabat, Trump kerap melontarkan kritik keras terhadap China dan menyebut negara itu sebagai pesaing utama yang harus dihadapi Washington. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia justru menonjolkan potensi kerja sama, terutama melalui negosiasi perdagangan.
Kunjungan Trump ke China semula dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April. Namun, agenda tersebut ditunda di tengah eskalasi konflik dengan Iran, menyusul keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer bersama Israel.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengaitkan rencana kunjungannya dengan isu pembukaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sempat terganggu akibat respons Iran terhadap serangan AS dan Israel.
Namun, pemerintah China membantah keterkaitan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa kunjungan itu tidak berhubungan dengan isu navigasi di Selat Hormuz.
"Perjalanan ini tidak ada kaitannya dengan isu pembukaan navigasi di Selat Hormuz," ujar Lin.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google















































