Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan dalam menjalankan transformasi bisnis.
Beragam teknologi mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), komputasi awan (cloud), pusat data, keamanan siber, hingga konektivitas membutuhkan integrasi yang tepat agar mampu memberikan nilai optimal bagi korporasi.
Melihat tantangan tersebut, XLSmart for Business menawarkan peran sebagai mitra integrator yang membantu korporasi mengelola dan menghubungkan seluruh ekosistem digital mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, mengatakan bahwa dunia digital saat ini dibangun di atas tujuh pilar utama, yaitu data, perangkat (device), konektivitas (network), aplikasi, keamanan (security), infrastruktur digital, serta AI dan analitik data.
Menurutnya, ketujuh pilar tersebut telah menjadi kebutuhan bagi individu maupun korporasi. Namun, tidak banyak perusahaan yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai seluruh komponen tersebut.
"Kalau disederhanakan, semesta dunia digital itu ada tujuh pilar. Mulai dari data, perangkat, konektivitas, aplikasi, keamanan, infrastruktur digital seperti cloud, data center dan GPU, hingga AI dan data analytics," ujar Andrijanto dalam Bravo 500 Summit 2026 yang digelar XLSMART for Business di Jakarta.
Ia menilai tantangan utama perusahaan saat ini bukan sekadar menentukan teknologi yang akan digunakan, melainkan bagaimana mengintegrasikan berbagai solusi digital yang tersedia di pasar.
"Isunya adalah ketujuh hal ini sudah menjadi keniscayaan bagi korporasi dan individu. Tapi pertanyaannya, siapa yang benar-benar memiliki pengetahuan lengkap mengenai ketujuh pilar ini? Bahkan rata-rata CEO mungkin hanya memahami sekitar 20% saja," katanya.
Selain itu, banyaknya pilihan teknologi, merek, dan penyedia layanan juga membuat perusahaan menghadapi tantangan dalam menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.
"Kalaupun memiliki sumber daya untuk membeli semuanya, pertanyaan berikutnya adalah mau membeli yang mana. Karena brand begitu banyak, supplier begitu banyak, dan yang terlibat juga sangat banyak," ucapnya.
Andrijanto menambahkan, persoalan integrasi menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap talenta digital, platform orkestrasi, hingga kebijakan yang mendukung transformasi digital secara menyeluruh.
Menjawab tantangan tersebut, XLSmart for Business berupaya mengambil peran sebagai penghubung berbagai komponen dalam ekosistem digital tersebut.
Menurutnya, sebagai perusahaan telekomunikasi, XLSmart memiliki pengalaman mengelola dan mengintegrasikan berbagai elemen teknologi untuk mendukung operasional perusahaan.
"Saya coba gambarkan dalam satu kapal induk, inilah XLSmart for Business. Karena kami di dunia telekomunikasi, hidup kami sehari-hari adalah mengorkestrasi tujuh pilar digital ini untuk kebutuhan kami sendiri," kata dia.
Andrijanto juga menjelaskan XLSmart yang merupakan hasil penggabungan XL Axiata dan Smartfren yang secara resmi telah beroperasi selama sekitar 1 tahun 4 bulan. Saat ini perusahaan memiliki tiga lini bisnis utama, yakni layanan konsumen (consumer), layanan internet rumah (home broadband), dan layanan bisnis atau enterprise.
Melalui Bravo 500 Summit 2026 yang mengusung tema "AI dan Integrasi Data", perusahaan berharap dapat menjadi wadah kolaborasi bagi pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperdalam pemahaman mengenai perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat.
"Forum ini menjadi sangat penting agar para CEO, C-Level, pelaku industri, hingga regulator dapat menambah wawasan, memperluas relasi, dan berkolaborasi untuk bertumbuh bersama. Mari kita hadirkan solusi untuk korporasi dan solusi untuk negeri," tutupnya.
(inh)
Add
as a preferred source on Google

















































