Wamenperin Pastikan Pasokan Bahan Baku Plastik Terjamin

6 hours ago 4

Batang, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan melejitnya harga plastik dan bahan bakunya dipengaruhi oleh perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dengan Iran.

Konflik ini membuat pasokan minyak terganggu imbas penutupan Selat Hormuz. Sementara, Indonesia masih bergantung pada impor untuk bahan baku biji plastik.

"Saat ini memang bahan baku yakni biji plastik mengalami kenaikan ya tentunya karena pengaruh dari konflik geopolitik AS-Iran. Sedangkan biji plastik sebagai bahan baku plastik, Indonesia masih mengimpor," kata Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza usai meresmikan pabrik grinding ball PT Elecmetal Longteng Indonesia di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, Rabu (15/04).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faisol memastikan pemerintah menjamin kebutuhan bahan baku plastik dan manufaktur.

"Yang pasti pemerintah memastikan bahan baku untuk kebutuhan industri manufaktur dan plastik itu bisa terjamin," jelasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan kenaikan harga bahan baku plastik yang signifikan sangat dirasakan pengusaha industri plastik. Hampir satu bulan harga bahan baku plastik naik hingga mencapai 100 persen.

[Gambas:Youtube]

"Ini gila-gilaan harga bahan baku plastik naik sampai 100 persen dan hampir satu bulan ini. Naiknya harga plastik banyak dirasakan oleh pengusaha industri plastik," kata Frans Kongi, Rabu (15/04/2026).

Frans menjelaskan kenaikan harga plastik disebut dikarenakan konflik geopolitik AS dengan Iran yang berdampak pada harga minyak dunia dan biji plastik.

"Akibat konflik geopolitik AS dan Iran harga minyak dunia naik, berpengaruh juga ke biji-biji plastik. Semua ini kan ada kaitannya dengan minyak bumi, biji plastik kan bahannya juga dari minyak bumi," jelasnya.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku plastik itu memang belum sepenuhnya mencekik pengusaha industri plastik. Namun, jika kondisi itu dibiarkan berlangsung lama, maka dampaknya akan semakin buruk.

"Naik 100 persen itu memang belum seluruhnya mencekik pengusaha plastik tapi kalau terus dibiarkan ya dampaknya akan semakin buruk," ujarnya.

Frans menerangkan sudah banyak pengusaha industri plastik yang mengeluhkan mahalnya bahan baku plastik, sehingga para pengusaha plastik terpaksa harus mengurangi jumlah produksinya.

"Banyak pengusaha yang sudah mengeluh mahalnya bahan baku plastik dan mau gak mau mereka akhirmya mengurangi jumlah produksinya. Mereka gak mampu lagi produksi banyak," terangnya.

Frans menambahkan kalau harga biji plastik mahal, maka industri plastik akan menaikkan harga produksinya sehingga harga produk plastik juga ikut naik. Bahkan kenaikannya bisa mencapai 100 persen.

"Harga biji plastik kan naik 100 persen dan otomatis pengusaha plastik juga akan menaikkan ongkos produksinya. Dampaknya, harga produk plastik di pasaran juga ikut naik 100 persen. Kalau semakin mahal harga plastiknya, ya daya beli masyarakat akan ikut turun. Dampaknya bisa sampai ke situ," ucapnya.

Ia meminta pemerintah tidak sekadar mengeluarkan pernyataan menjamin ketersediaan bahan baku, tetapi juga mencarikan solusi agar harga biji plastik tidak naik secara terus menerus.

"Jangan hanya bilang kebutuhan bahan baku plastik aman dan dijamin, tapi carikan solusimya biar bahan baku plastik ini tidak naik terus," ungkapnya.

Frans berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku plastik dan harga bahan baku industri lainnya, sehingga kondisi seperti ini tidak berlangsung lama dan mencegah terjadinya krisis ekonomi.

(dms/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |